Pengendalian Rollermill RMX125Q Fix

August 9, 2018 | Author: reza musaddad | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Pengendalian Rollermill...

Description

PENGENDALIAN ROLLERMILL RMX RMX 125Q MILL AB PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR, TBK DIVISI BOGASARI FLOUR MILLS

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuliah Praktek Kerja Lapangan dan Seminar pada semester VII di Program Studi D4 Teknik Otomasi Industri Departemen Teknik Elektro

Oleh: Reza Musaddad NIM : 121364025

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2015

i

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kehadirat Illahi Rabb Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Kerja Praktek dengan judul “ pengendalian rollermills RMXQ RMXQ Mill AB” dengan  baik. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Praktek Kerja Lapangan Program Studi D4 Teknik Otomasi Industri Politeknik Negeri Bandung. Adapun didalam penyelesaian laporan ini telah diusahakan semaksimal mungkin dan tentunya banyak dibantu oleh beberapa pihak baik secara materil maupun non materil, oleh karenanya pada kesempatan ini penulis bermaksud menyampaikan ucapan terimakasih kepada: 1. Mamah Yeyen dan Papah Dodi yang senantiasa dengan ikhlas memberikan doa, kasih sayang, motivasi, kerja keras, pengorbanan, serta dukungannya yang tiada henti. 2. Kakakku Tessa beserta suami yang selalu memberi dukungan dan semangat kepada penulis untuk tetap melakukan yang terbaik. 3. Bapak Malayusfi, BSEE., M.Eng Selaku Kepala Departement Teknik Elektro. 4. Bapak Sarjono Wahyu J.,SST.,M.Eng Selaku Kepala Program Study D4Teknik Otomasi Industri yang selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada kami. 5. Bapak Sudrajat,B.Eng.,M.Eng.Sc selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dan arahan yang luar selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan. 6. Seluruh Dosen & Staf di Departement Teknik Elektro Politeknik Negeri Bandung. 7. Bapak Agung Nugroho selaku Manager Departemen Automation PT.Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari Flour Mills , yang telah

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kehadirat Illahi Rabb Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Kerja Praktek dengan judul “ pengendalian rollermills RMXQ RMXQ Mill AB” dengan  baik. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Praktek Kerja Lapangan Program Studi D4 Teknik Otomasi Industri Politeknik Negeri Bandung. Adapun didalam penyelesaian laporan ini telah diusahakan semaksimal mungkin dan tentunya banyak dibantu oleh beberapa pihak baik secara materil maupun non materil, oleh karenanya pada kesempatan ini penulis bermaksud menyampaikan ucapan terimakasih kepada: 1. Mamah Yeyen dan Papah Dodi yang senantiasa dengan ikhlas memberikan doa, kasih sayang, motivasi, kerja keras, pengorbanan, serta dukungannya yang tiada henti. 2. Kakakku Tessa beserta suami yang selalu memberi dukungan dan semangat kepada penulis untuk tetap melakukan yang terbaik. 3. Bapak Malayusfi, BSEE., M.Eng Selaku Kepala Departement Teknik Elektro. 4. Bapak Sarjono Wahyu J.,SST.,M.Eng Selaku Kepala Program Study D4Teknik Otomasi Industri yang selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada kami. 5. Bapak Sudrajat,B.Eng.,M.Eng.Sc selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dan arahan yang luar selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan. 6. Seluruh Dosen & Staf di Departement Teknik Elektro Politeknik Negeri Bandung. 7. Bapak Agung Nugroho selaku Manager Departemen Automation PT.Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari Flour Mills , yang telah

iii

mengijinkan, membimbing dan memberikan arahan dan pelaj aran kepada  penulis selama Kerja Praktek. 8. Bapak Suparno yang telah menyambut dan menerima kami di departemen Automation. 9. Bapak Bayu Susanto selaku pembimbing lapangan yang dengan sabar memberi arahan, saran dan banyak sekali ilmu kepada penulis selama Kerja Praktek. 10. Bapak Budjang Rajab, bapak Ahmad Fauzi, bapak Benjamin, bapak Alfon, bapak Anto, bapak Edi purnomo, bapak Roli, terimakasih atas ilmu yang telah diberikan selama melaksankan Kerja Praktek. 11. Seluruh Staf Khusus Dept Automation serta karyawan/karyawati PT.Indofood Sukses Makmur.Tbk Divisi Bogasari, Atas i lmu dan kesediaannya dalam membantu pelaksanaan kerja Praktek. 12. Bagus Komang Januartika, Ilham Arinugraha, Iyus selaku partner yang terbaik. 13. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Teknik Otomasi Industri dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat kekurangan.

Hal

ini

dapat

disebabkan

kurangnya

pengetahuan

dan

 pengalaman penulis dalam bidang penulisan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi tercapainya kesempurnaan di masa mendatang.

Akhir kata, penulis mengucapkan

terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan laporan Kerja Praktek ini, semoga dapat  bermanfaat bagi kita semua khusunya penulis dan digunakan sebagaimana mestinya. Bandung, 15 Oktober 2015 Penulis, Reza Musaddad

iv

LEMBAR PENGESAHAN PENGENDALIAN ROLLERMILL RMX 125Q MILL AB PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR, TBK DIVISI BOGASARI FLOUR MILLS

Oleh: Reza Musaddad 121364025

Pelaksanaan di perusahaan/industri : Tanggal : 03 Agustus s/d 31 Agustus 2015 Tempat : PT.Indofood Sukses Makmur, TBK Divisi Bogasari Flour Mills Diseminarkan : Tanggal Tim Penguji

:29 Nopember 2015 : 1.Sarjono Wahyu Jatmiko, ST.,M.Eng 2.Heri Budi Utomo, Ir

(Penguji 1) (Penguji 2)

Disahkan oleh: Tanggal Pembimbing Lapangan

Tanggal Pembimbing Jurusan

( ……………………...……. )  NIP. …………………………

( ……………………...……. )  NIP. …………………………

Tanggal 29 November 2015 Ketua Program Studi Otomasi Industri

(Sarjono Wahyu Jatmiko, ST.,M.Eng)  NIP.196012191993031002

v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iv DAFTAR ISI ........................................................................................................... v DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 1.1 Tinjauan Umum Perusahaan ......................................................................... 1 1.1.1 Sejarah Perusahaan ................................................................................. 1 1.1.2 Visi dan Misi Perusahaan ....................................................................... 3 1.1.3 Ruang Lingkup Kegiatan Perusahaan ..................................................... 5 1.1.4 Struktur Organisasi Perusahaan ............................................................ 14 1.2 Latar Belakang ............................................................................................ 18 1.3 Tujuan Praktek Kerja Lapangan .................................................................. 19 1.4 Ruang Lingkup Pembahasan ....................................................................... 19 1.5 Sistematika Penulisan .................................................................................. 19 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 21 2.1 Proses Produksi ........................................................................................... 21 2.1.1 Penanganan Bahan Baku ...................................................................... 21 2.1.2 Proses Pengolahan Bahan Baku............................................................ 21 2.1.3 Proses Pengemasan ............................................................................... 26 2.2 Pengenalan mengenai HMI (Human Machine Interface) ............................ 27 2.2.1 Definisi HMI ......................................................................................... 27 2.2.2 Macam Tampilan HMI ......................................................................... 27

vi

2.2.3 Manajemen Alarm ................................................................................ 28 2.2.4 Macam Penggunaan HMI ..................................................................... 28 2.3 Programmable Logic Controller (PLC) ....................................................... 28 2.3.1 Defifnisi PLC ........................................................................................ 28 2.3.2 Komponen – Komponen PLC............................................................... 29 2.3.3 PLC Siemens SIMATIC S7-400........................................................... 32 2.3.4 PLC Siemens SIMATIC S7-200........................................................... 36 2.4 Inverter ........................................................................................................ 38 2.4.1 Inverter Siemens Micromaster .............................................................. 39 2.5 Motor Induksi 3 Fasa ................................................................................... 41 2.6 Sistem Pneumatic ........................................................................................ 43 2.7 Profibus ....................................................................................................... 45 2.7.1 Jenis Profibus ........................................................................................ 45 2.7.2 Teknologi Transmisi ............................................................................. 46 2.8 Sensor dan transduser .................................................................................. 47 2.8.1 Sensor Kedekatan (Proximity) .............................................................. 47 BAB III HASIL PELAKSANAAN PKL.............................................................. 51 3.1 Indentifikasi Topik ...................................................................................... 51 3.2 Pengenalan Rollermill RMX 125Q ............................................................. 51 3.2.1 Fitur umum ........................................................................................... 53 3.2.2 Fungsi.................................................................................................... 53 3.3 Komponen Rollermill .................................................................................. 55 3.3.1 Komponen mekakik .............................................................................. 55 3.3.2 Komponen elektronik ........................................................................... 58 3.3.3 Komponen pneumatik ........................................................................... 60

vii

3.4 Prinsip kerja mesin rollermill RMX 125Q .................................................. 62 3.5 Pengendalian Kecepatan rollermill RMX 125Q ......................................... 65 3.5.1 Fungsi dasar .......................................................................................... 65 3.5.2 Mode Pengoperasian ............................................................................. 66 3.5.3 Hubungan Arus, Kecepatan dan Level ................................................. 69 3.5.4 Sistem komunikasi dan Topologi Jaringan ........................................... 70 3.6 Troubleshooting........................................................................................... 73 3.7 SIMULASI .................................................................................................. 74 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 79 4.1 Kesimpulan .................................................................................................. 79 4.2 Saran ............................................................................................................ 79 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 81

viii

DAFTAR GAMBAR 

Gambar 1.1 Tepung Cakra Kembar Emas .............................................................. 5 Gambar 1.2 Tepung Cakra Kembar ........................................................................ 6 Gambar 1.3 Tepung Segitiga Biru .......................................................................... 6 Gambar 1.4 Tepung Kunci Biru .............................................................................. 7 Gambar 1.5 Tepung Kunci Emas ............................................................................ 8 Gambar 1.6 Tepung Lencana Merah ....................................................................... 8 Gambar 1.7 Tepung Piramida ................................................................................. 9 Gambar 1.8 Tepung Taj Mahal ............................................................................. 10 Gambar 1.9 Tepung Kastil .................................................................................... 10 Gambar 1.10 Bran Cap Kepala Kuda.................................................................... 11 Gambar 1.11 Cap Angsa ....................................................................................... 12 Gambar 1.12 Tepung Industri Cap Anggrek ......................................................... 12 Gambar 1.13 Pellet Cap Kepala Sapi .................................................................... 13 Gambar 2.1 CPU 416-3 PN/DP ............................................................................ 34 Gambar 2.2 SIMATIC S7-400,POWER SUPPLY 407 4 A ................................. 35 Gambar 2.3 Siemens S7-200 CPU 224-1AD23-OXBO ....................................... 36 Gambar 2.4 Siemens S7-200 POWER SUPPLY SITOP POWER 2 .................... 38 Gambar 2.5 Rangkaian dasar Inverter ................................................................... 39 Gambar 2.6 micromaster 420 ................................................................................ 40 Gambar 2.7 motor induksi 3 fasa 30 KW ............................................................. 41 Gambar 2.8 Sistem Pneumatic .............................................................................. 43 Gambar 2.9 Klasifikasi sistem Pneumatik ............................................................ 44 Gambar 2.10 Contoh Jaringan Profibus ................................................................ 45 Gambar 2.11 Rangkaian dalam sensor induktif .................................................... 47 Gambar 2.12 cara kerja sensor induktif ................................................................ 48 Gambar 2.13 Probe sensor induktif....................................................................... 48 Gambar 2.14 konstruksi sensor kapasitif .............................................................. 49 Gambar 2.15 Probe sensor level kapasitif ............................................................. 50

ix

Gambar 3.1 Logo OCRIM .................................................................................... 52 Gambar 3.2 Rollermill RMX (kiri) dan rollermill RMX 125Q (kanan) ............... 52 Gambar 3.3 Breaking proses ................................................................................. 53 Gambar 3.4 Skematik first breaking ..................................................................... 54 Gambar 3.5 Grinding roll  dan bagian pendukungnya .......................................... 55 Gambar 3.6 Konfigurasi permukaan grinding roll ............................................... 55 Gambar 3.7 inlet hopper atau feedtube ................................................................. 57 Gambar 3.8 Scraper roll ........................................................................................ 57 Gambar 3.9 Feedroll  yang dikopel dengan gear motor  ........................................ 58 Gambar 3.10 Gear motor ...................................................................................... 58 Gambar 3.11 Inverter siemens .............................................................................. 59 Gambar 3.12 Motor rol ......................................................................................... 59 Gambar 3.13 PLC siemens S7-200 ....................................................................... 60 Gambar 3.14 Diagram pneumatik ......................................................................... 60 Gambar 3.15 Diagram alir prinsip kerja mode kecepatan fungsi level. ................ 62 Gambar 3.16 Pandangan sisi melintang mesin rollermill RMX 125Q ................. 63 Gambar 3.17 kostruksi penggerak mula................................................................ 63 Gambar 3.18 Diagram blok pengendalian ............................................................ 65 Gambar 3.19 Tampilan HMI mill AB ................................................................... 66 Gambar 3.20 Tampilan panel simatic rollermill RMX 125Q ............................... 67 Gambar 3.21 Panel Server Mill AB ...................................................................... 71 Gambar 3.22 Tampilan jendela blank CX-Programmer ....................................... 74 Gambar 3.23 menu untuk memulai projek............................................................ 74 Gambar 3.25 penentuan hardware PLC ................................................................ 75 Gambar 3.26 capture diagram ladder .................................................................... 75 Gambar 3.27 capture diagram ladder .................................................................... 75 Gambar 3.28 tampilan awal CX-Designer ............................................................ 76 Gambar 3.29 menubar untuk membuat projek baru.............................................. 76 Gambar 3.30 jendela dialog untuk projek baru ..................................................... 76 Gambar 3.31 jendela untuk membuat halaman baru............................................. 77 Gambar 3.32 tampilan halaman awal .................................................................... 77

x

Gambar 3.33 capture halaman utama HMI ........................................................... 78 Gambar 3.34 tampilan dialog simulasi ................................................................. 78

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Karakteristik Tepung Cakra Kembar Emas ............................................ 5 Tabel 1.2 Karakteristik Tepung Cakra Kembar ...................................................... 6 Tabel 1.3 Karakteristik Tepung Segitiga Biru ........................................................ 7 Tabel 1.4 Karakteristik Tepung Kunci Biru ............................................................ 8 Tabel 1.6 Karakteristik Tepung Lencana Merah..................................................... 9 Tabel 1.7 Karakteristik Tepung Piramida ............................................................... 9 Tabel 1.8 Karakteristik Tepung Taj Mahal ........................................................... 10 Tabel 1.9 Karakteristik Bran Cap Kepala Kuda.................................................... 11 Tabel 1.10 Karakteristik Pollard cap Angsa ......................................................... 12 Tabel 1.11 Karakteristik Tepung Industri Cap Anggrek ....................................... 13 Tabel 1.12 Karakteristik Pellet Cap Kepala Sapi .................................................. 14 Tabel 2.1 Spesifikasi Siemens SIMATIC S7-400................................................. 33 Tabel 2.2 Spesifikasi Siemens SIMATIC S7-400, CPU 416-3 PN/DP ................ 34 Tabel 2.3 Spesifikasi Power supply 407 4 A ........................................................ 35 Tabel 2.4 Spesifikasi S7-200 CPU 224-1AD23-OXBO ....................................... 37 Tabel 2.5 Siemens S7-200 POWER SUPPLY SITOP POWER 2........................ 38 Tabel 2.6 spesifikasi MICROMASTER 420 inverter ........................................... 40 Tabel 3.1 Spesifikasi teknik rollermill RMX 125Q .............................................. 53 Tabel 3.2 Produk yang dihasilkan dari keseluruhan breaking proses ................... 54 Tabel 3.3 Kapasitas break roll............................................................................... 56 Tabel 3.4 Diagram pneumatik ............................................................................... 61 Tabel 3.5 Simbol panel touchscreen simatic RMX 125Q ..................................... 67 Tabel 3.6 hubungan kecepatan dengan level......................................................... 70 Tabel 3.7 Kode panel dan nama panel pada jaringan mill A ................................ 71

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Tinjauan Umum Perusahaan 1.1.1 Sejarah Perusahaan Pabrik Bogasari di Tanjung Priok, Jakarta mulai beroperasi pada tanggal 29  November 1971. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 10 Juli 1972, dilakukan peresmian Pabrik Bogasari di Tanjung Perak, Surabaya. Saat ini Bogasari memiliki dua pabrik yang berlokasi di Jakarta dan Surabaya dengan total kapasitas produksi tepung sebesar 3,2 juta ton per tahun. Semuanya berawal pada tanggal 19 Mei 1969, ketika “Empat Sekawan” : Soedomo Salim, Djuhar Sutanto, Sudwikatmono, dan Ibrahim Risyad , mendirikan bogasari di tengah sulitnmya perekonomian Indonesia saat itu demi menjawab permasalahan pangan yang muncul di Indonesia, sekalipun mereka sadar belum memiliki pengalaman di  bidang industri pangan. Pada tanggal 29 November 1971 untuk kali pertama segenggam tepung terigu berhasil dibuat, ini merupakan peristiwa yang menandai fase baru dalam sejarah pangan Indonesia. Kehadiran bogasari sebagai produsen tepung terigu  pertama sekaligus terbesar di Indonesia membuka peluang penganekaragaman makanan bagi masyarakat Indonesia yang masih sangat tergantung pada beras. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan terigu, bogasari meningkatnya kapasitas produksinya dengan mengoperasikan pabrik kedua di kawasan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Pengembangan kapasitas dan teknologi yang dilakukan terus menerus menjadikan bogasari saat ini dapat menggiling lebih dari 16.000 ton gandum per hari. Selain tepung terigu , bogasari juga memiliki hasil produksi sampingan (by  product ), yaitu Bran, Pollard, dan Pellet yang digunakan untuk pakan ternak, serta tepung industri yang digunakan dalam industri kayu lapis.

1

2

Untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi itu, sejak Januari 1977  bogasari melengkapi

organisasinya dengan Divisi Tekstil yang memproduksi

kantong terigu di Citeurup, Bogor, Jawa Barat. Pada tahun yang sama bogasari membangun Divisi Maritim guna menjamin kelancaraan pengadaan dan  pengakutan gandum yang diimpor dari mancanegara. Lebih lanjut, guna meningkatan daya saing dan diversifikasi produuk pangan berbasis gandum, pada tahun 1991, usaha Bogasari telah diperluas dengan mendirikan pabrik pasta dalam kawasan pabrik Bogasari di Jakarta yang memproduksi jenis makanan asal Italia seperti spaghetti, macaroni, fettucini, dan lainnya, yang dipasarkan dengan merek La Fonte. Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dalam negeri, berbagai produk pasta tersebut juga diekspor ke mancanegara. Dalam kurun waktu 1992-1995, bogasari dua kali berpindah kepemilikan. Pada Juli 1992 diakuisisi oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa, dan sejak tahun 1995 oleh PT Indofood Sukses Makmur. Pada tahun 1996  bogasari berhasil memperoleh sertifikasi ISO 9002  dari SGS dan SUCOFINDO. Diperolehnya sejumlah penghargaan dan sertifikat atas  produk dan manajemen bogasari itu telah membuktikan keseriusan dan konsisten komitmen bogasari untuk selalu memberikan yang terbaik bagi semua  pelanggannya dan seluruh masyarakat Indonesia. Pada tahun 1993  pemerintah melakukan deregulasi investasi dibidang industri tepung terigu. Paket kebijakan ini membuka peluang dibukanya  penggilingan-penggilingan gandum baru di Indoneisa. Sejak saat ini bogasari mulai bersaing dengan produsen tepung terigu domestik. Persaingan bebas dalam  pemasaran tepung terigu dimulai pada tahun 1998 ketika Pemerintah melakukan deregulasi tata niaga tepung terigu. Kran impor dibuka lebar denga bea masuk 0 % dan Pemerintah benar-benar melepas keterlibatannya dalam perdagangan tepung terigu. Dengan demikian produk bogasari bersaing ketat tidak hanya dengan produsen domestik tapi juga luar negeri. Menyikapi perubahan tersebut bogasari pun melakukan serangkaian  pembenahan organisasional. Dibidang pengembangan sumber daya manusia  bogasari telah mengantisipasinya melalui sejumlah program peningkatan mutu

3

seperti Total Quality Management . Dibidang produksi, orientansi pun diubah haluannya melalui pengendalian kualitas (Quality Control ), serta perencanaan  pengembangan dan pengendalian produksi ( Production Planning Improvement and Control ). Untuk mendukung semua upaya itu, bogasari pun mengembangkan sistem teknologi informasi yang dimilikinya (Organizational Information System and Management Information System). Dibidang komersial ditandai dengan dimulainya berbagai aktiviitas  pemasaran melalui perluasan jaringan distribusi (pendirian depo-depo di berbagai kota besar di seluruh Indonesia, dan dikembangkan nya pengiriman tepung terigu curah), kegiatan promosi yang gencar (Sajian Bersama bogasari, Promo Seru,  bogasari Expo, dan lain-lain), pelayanan pelanggan ( Backing School / Pusat Pelatihan Pengelolaan Tepung  –   P3T), serta pengembangan dan diversifikasi  produk (consumer pack , tepung cepat saji, dan sebagainya). Pada 19 September 1999, untuk pertama kalinya bogasari mengekspor tepung terigu sebanyak 860 karung tepung terigu pilihan (21,5 metrik ton) ke Singapura. Sejak ekspor perdana itu, bogasari makin aktif mengembangkan jaringan  pemasaran ekspornya ke berbagai negara di kawasan Asia Tenggara, salah satunya dengan membuka kantor perwakilan di Singapura. 1.1.2 Visi dan Misi Perusahaan Visi : “Menjadi industri pangan berbasis produk pertanian dan jasa terkait yang  bertaraf dunia.” Misi : 1. Memproduksi, mendistribusi dan menjual pangan, bahann pangan serta pakan yang bermutu dan bernilai tambah berbasis produk pertanian, guna meningkatkan kesejahteraan, dan kemakmuran pelanggan, mitra usaha, masyarakat, karyawan dan para pemegang saham. 2. Menyediakan/menjual produk dan jasa terkait, antara lain : kemasan, angkutan curah serta penyimpanan dan pengemasan biji-bijian (grain terminal).

4

3. Memperkuat daya saing dengan cara menerapkan teknologi yang tepat, melakukan diversifikasi produk dan jasa serta mengembangkan sumber daya manusia seutuhnya. Fungsi Sosial Ekonomi Perusahaan: Ada lima nilai  –  nilai falsafah Bogasari Flour Mills yang disebut “Panca Bhakti Bogasari”, Bogasari”, yaitu : 1. Integritas Setiap insane Bogasari menjalankan pekerjaannya degan itikad baik, tulus,  jujur, tanggung jawab dan penuh pengabdian kepada pelanggan, mitra usaha, masyarakat, karyawan dan para pemegang saham. 2. Keunggulan Setiap insane Bogasari selalu memberikan yang terbaik kepada pelanggan, mitra usaha, masyarakat, karyawan dan para pemegang saham. 3. Kepedulian Bogasari merupaka bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat  banyak. Oleh karena itu, setiap insan Bogasari senantiasa memperhatika kepentingan pelanggan, mitra usaha, masyarakat, karyawan dan para  pemegang saham. 4. Kebersamaan Manusia saling membutuhkan untuk dapat bertahan hidup dan tumbuh  bersama. Dalam berinteraksi terhadap sesama, setiap insan Bogasari menjunjung tinggi harkat dan martabat , kesetiakawana dan bergotong royong. 5. Keterbukaan Setiap insan Bogasari senantiasa membangun komunikasi dua arah dan selalu  berfikir positif dalam memberikan dan menerima setiap informasi saran, kritik demi kebaikan dan kemajuan bersama.

5

1.1.3 Ruang Lingkup Kegiatan Perusahaan A. Produk utama tepung terigu Produk utama yang dihasilkan PT Indofood Indofood Sukses Makmur Tbk. Tbk. Bogasari Flour Mills adalah tepung terigu. Makanan berbasis gandum atau tepung terigu telah menjadi makanan pokok banyak negara. Ketersediaannya yang melimpah di pasaran dunia, proteinnya yang tinggi, harganya yang relatif tidak mahal dan  pengolahannya yang praktis mudah telah menjadikan makanan berbasis tepung t epung terigu merambah cepat ke berbagai negara. Negara-negara pengekspor gandum  juga cukup banyak antara lain, Australia, Kanada, Amerika, Rusia, Cina, dan masih banyak lagi. Produk-produk utama yang dihasilkan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills untuk pasaran domestik anatar lain :

1. Cakra Kembar Emas.

Gambar 1.1 Tepung Cakra Kembar Emas

Merupakan tepung terigu yang dibuat dari 100% hard wheat  pilihan. Kandungan protein dan gluten yang tinggi sangat bagus dijadikan sebagai  bahan dasar pembuatan roti dengan volume yang lebih besar dan mengembang sempurna. Kadar abu yang rendah membuat crumb roti lebih  putih. Tepung ini khusus dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan roti. Tabel 1.1 Karakteristik Tepung Cakra Kembar Emas

6

2. Cakra Kembar

Gambar 1.2 Tepung Cakra Kembar

Merupakan tepung terigu yang terbuat dari 100% hard wheat , sehingga kandungan proteinnya tinggi, minimal 13%. Tepung terigu ini umumnya diproduksi dengan menggunakan campuran gandum dari Australia dan Amerika. Tepung ini mempunyai sifat gluten yang ulet dan kuat. Tepung ini cocok dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan roti, mie, kue, dan lain-lai n. Tabel 1.2 Karakteristik T epung Cakra Kembar 

3. Segitiga Biru

Gambar 1.3 Tepung Segitiga Biru

7

Merupakan tepung medium yang dihasilkan dari campuran hard wheat dan  soft wheat, sehingga dihasilkan tepung terigu dengan dengan kandungan  protein sebesar 10,5-11,5%. Untuk gandum yang berasal dari Amerika dan Kanada, campurannya adalah 60%  soft wheat dan 40% hard wheat , sedangkan gandum Australia, komposisinya adalah 50%  soft wheat dan 50% hard wheat . Tepung ini merupakan tepung terigu serbaguna karena sifat glutennya yang sedang. Tepung ini banyak dijual untuk keperluan rumah tangga. Kegunaannya antara lain sebagai bahan dasar pembuatan roti, cake, mie kering, mie basah, dan biskuit. Tabel 1.3 Karakteristik Tepung Segitiga Biru

4. Kunci Biru Merupakan tepung terigu yang dibuat dari 100%  soft wheat . Kadar protein tepung ini berkisar antara 8,55%-10% sehingga sifat glutennya rendah. Tepung ini cocok digunakan sebagai bahan dasar pembuatan cake, cookies,  biskuit, wafer, dan kue-kue kering lainnya.

Gambar 1.4 Tepung Kunci Biru

8

Tabel 1.4 Karakteristik Tepung Kunci Biru

5. Kunci Emas.

Gambar 1.5 Tepung Kunci Emas

Merupakan tepung terigu yang memiliki kadar proteinnya 8% dan daya serap terhadap air rendah. Tepung ini dijadikan sebagai bahan dasar  pembuatan biskuit, kue kering, dan wafer.

6. Lencana Merah

Gambar 1.6 Tepung Lencana Merah

9

Merupakan tepung terigu yang terbuat dari  soft wheat Australia dan Amerika. Kandungan protein berkisar antara 8,5%-10%. Biasa digunakan dalam pembuatan roti kering dan gorengan. Tabel 1.6 Karakteristik Tepung Lencana Merah

7. Piramida

Gambar 1.7 Tepung Piramida

Merupakan tepun terigu yang serbaguna, yang dapat digunakan untuk  pembuatan mie dan flat bread yang tidak memerlukan pengembangan terlalu  besar. Kandungan proteinnya 10%. Tabel 1.7 Karakteristik Tepung Piramida

10

8. Taj Mahal

Gambar 1.8 Tepung Taj Mahal

Tepung gandum dengan serat tinggi, cocok untuk roti sehat dan roti khas India. Tabel 1.8 Karakteristik Tepung Taj Mahal

9. Kastil Merupakan tepung terigu yang terbuat dari campuran hard wheat dan soft wheat . Memiliki kandungan protein yang sedang yaitu 12%. Tepung ini khusus dijual untuk industri makanan. Biasa digunakan untuk membuat roti dan baked product.

Gambar 1.9 Tepung Kastil

11

B. Produk Samping Bagian gandum yang tidak terekstraksi menjadi tepung akan diolah menjadi pakan ternak, yaitu pellet dan diolah menjadi bahan lem dalam  produksi kayu industri, yaitu industrial flour. Produk samping yang diproduksi oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills adalah:

1. Brand

Gambar 1.10 Bran Cap Kepala Kuda

Bran adalah bagian kutit gandum yang bertekstur kasar dan memiliki kadar serat tinggi sehingga digunakan sebagai bahan campuran pembuatan roti  berserat. Bran digunakan sebagai bahan ternak, dikemas dalam karung 25 kg dengan merk dagang “Cap Kepala Kuda”.

Tabel 1.9 Karakteristik Bran Cap Kepala Kuda

2. Pollard Adalah bagian gandum yang terletak lebih dekat dengan endosperm sehingga mutu proteinnya lebih baik jika dibandingkan dengan bran. Kadar

12

seratnya tinggi dengan ukuran granulasinya lebih kecil daripada bran. Produk ini diminati oleh pabrik  Feed Meal dan peternak sapi perah. Produk ini dikemas dengan karung berukuran 25 kg dengan merk dagang “Cap Angsa”.

Gambar 1.11 Cap Angsa Tabel 1.10 Karakteristik Pollard cap Angsa

3. Tepung Industri

Gambar 1.12 Tepung Industri Cap Anggrek

Tepung industri dihasilkan pada reduction process  pada bagian roller . Tepung industri memiliki kandungan protein yang hampir sama dengan tepung terigu, perbedaanya terletak pada warnanya. Tepung industi memiliki warna kecokelatan karena memiliki kadar abu yang cukup tinggi. Tepung industri juga berasal dari proses  sweeping , yaitu tepung yang jatuh dilantai

13

dikumpulkan kembali untuk dibersihkan dan dipisahkan dari matetialmaterial yang tidak diinginkan. Tepung industri dikemas dalam karung  berukuran 25 kg dengan merk dagang “Cap Anggrek”. Produk ini biasa digunakan sebagai bahan dasar lem dalam pembuatan kayu industri, selain itu  juga dapat digunakan sebagai pakan ikan. Tabel 1.11 Karakteristik Tepung Industri Cap Anggrek 

4. Pellet

Gambar 1.13 Pellet Cap Kepala Sapi

Pellet merupakan produk yang terbuat dari campuran antara bran dan  pollard. Produk ini digunakan sebagai pakan ternak. Produk ini melalui  proses steaming dan di  press sehingga berbentuk silinder dengan diameter 6 mm dan panjang mempengaruhi kualitas tepung yang dihasilkan. Germ  biasanya diekspor ke Jepang untuk dijadikan sebagai bahan pembuat kapsul dan kosmetik.

14

Tabel 1.12 Karakteristik Pellet Cap Kepala Sapi

5. Germ Germ merupakan bagian lembaga tempat pembentukan tunas baru. Bagian ini banyak mengandung lemak sehingga harus dipisahkan dari tepung, karena dapat mempengaruhi kualitas tepung yang dihasilkan. Germ biasanya diekspor ke Jepang untuk dijadikan sebagai bahan pembuat kapsul dan kosmetik.

C. Pasta Selain terigu, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. divisi Bogasari juga memproduksi pasta dengan merk La Fonte dan Sedani. Pasta adalah suatu  jenis makanan berasal dari Itali yang terbuat dari semolina. Semolina sendiri adalah sejenis tepung hasil olahan biji gandum dengan granulasi yang lebih kasar. Jenis pasta yang dikenal di Indonesia adalah spaghetti dan macaroni. Pasta dari Bogasari dibuat dari gandum pilihan dan diolah dengan mesin  berteknologi tinggi sehingga menghasilkan pasta La Fonte dan Sedani yang  berkualitas tinggi. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Bogasari  juga mengekspor produk pasta ke beberapa negara seperti : Jepang, Korea, Philipine, Hong Kong, Thailand, Malaysia dan Bahrain.

1.1.4 Struktur Organisasi Perusahaan Kekuatan tertinggi di PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills Jakarta (Gambar Struktur Organisasi Terlampir di lampiran 1) adalah OPU (Deputy OPU Head) yang membawahi empat senior Vice President (SVP). Senior

15

Vice President yang ada di PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Bogasari Flour Mills terdiri atas SVP Finance, SVP Commercials, SVP Manufacturing, dan SVP Human Resources. SVP Manufacturing dibantu oleh tiga Vice President, yaitu VP Operations, VP Technical Support, dan VP Quality and Product Planning and Development. Masing-masing VP memimpin satu divisi. Berikut ini merupakan  job description dari masing-masing jabatan: 1. Deputy OPU Head Merupakan pimpinan tertinggi divisi Bogasari. Dalam melaksanakan tugasnya,  Deputy Operation Unit Head   dibantu oleh  Senior Vice  President . 2.  Marketing Department Departemen ini bertanggung jawab dalam mengatur dan menangani masalah pemasaran produk. 3. International Sales & Industrial Sales Departmen Departemen ini bertanggung jawab mengatur penjualan produk, baik ke dalam maupun luar negeri. Adapun jenis produk ekspor tersebut adalah tepung special dan pproduk sampingab ( by product ). 4. Customer Relations Department  Departemen ini bertanggung jawab dalam menjalin hubungan dengan customer . Dari customer  dapat diketahui apa kekurangan dari produk yang ada, sehingga dapat dilakukan perbaikan. 5. Commercial Service Department  Bagian ini menangani masalah pengadaan bahan baku dan penyediaan fasilitas untuk pendistribusian produk. 6. Operation Department  Operations Division merupakan bagian yang bertanggung jawab atas operasi penyimpanan di silo, proses milling, dan packing. Bagian ini dibagi lagi menjadi empat departemen, yaitu: a. Milling Departement, bertanggung jawab atas kelancaran proses  produksi dan menggiling tepung terigu dengan mutu sesuai dengan

16

yang ditetapkan. Tugasnya antara lain melaksanakan produksi sesuai dengan Rencana Produksi.Bagian ini dipimpin oleh manager dan dibantu oleh deputy head miller dan miller.  b. Flour Silo and Bulk Packing Departement, bertanggung jawab atas  penyimpanan tepung terigu sementara sebelum dipacking dalam silo khusus tepung terigu dan pengemasan tepung terigu dalam bentuk karung maupun curah. Tugasnya antara lain melakukan pengemasan  produk berdasarkan jenisnya, yaitu tepung regular. Bagian ini dpimpin oleh seorang manager. c. Blanding Silo and Bulk Packing Departemen, bertanggung jawab atas  pencampuran tepung terigu menjadi tepung premix maupun tepung  –  tepung inovasi lainnya. Selain itu juga bertugas untuk mengemas tepung-tepung tersebut dalam consumer packing (biasanya satu dan dua kilo). Tugasnya antara lain melakukan pengemasan produk  berdasarkan jenisnya, yaitu tepung ekspor dan spesial. Bagian ini dipimpin oleh seorang manager. d. Silo Departemen, yang bertanggung jawab memasukkan gandum ke dalam wheat silo sesuai dengan jenis dan spesifikasinya dan mengatur  proses pengeluaran gandum menuju mill untuk digiling. Tugasnya antara

lain

melaksanakan

operasi

penyimpanan

gandum

dan

melakukan transfer gandum sesuai komposisi grist yang diminta pihak mill. Bagian ini dipimpin oleh seorang manager.

e. Technical Support Department Technical Support Division merupakan bagian yang bertanggung  jawab untuk pemeliharaan seluruh sarana utama penunjang kelancaran  produksi mulai dari pengadaan sumber energi sampai kepada  bangunan tempat produksi berlangsung. Bagian ini dibagi menjadi empat departemen, yaitu: 

Maintenace Departement, bertanggung jawab atas perbaikan mesin dan peralatan di tempat produksi.

17



Production

Facility

Departement,

bertanggung

jawab

atas

 pemeliharaan seluruh bangunan yang ada, kebersihan lingkungan  pabrik dan pemeliharaan taman, serta pelaksanaan pengendalian hama pada silo dan tempat penyimpanan tepung. 

Automation Departemen, bertanggung jawab atas perawatan dan

pemeliharaan

seluruh

peralatan

listrik

serta

bertugas

menjalankan instalasi sederhana. 

Material Stores Departement, bertanggung jawab atas pengadaan instrumen-instrumen alat yang digunakan untuk perbaikan dan  pemeliharaan seluruh mesin dan alat produksi. Tugasnya antar lain penyediaan sarana keperluan produksi seperti suku cadang  peralatan, bahan bakar, serta kemasan.

7. Quality, Production Planning and Development Department Bagian ini bertanggung jawab dalam hal pengendalian kualitas,  perencanaan produksi, dan pengembangan produk. Bagian ini juga  bertanggung jawab dalam menangani stok gandum, bahan fortifikasi, dan  bahan penunjang lainnya yang tersedia. Selain itu juga membuat laporan mengenai jumlah gandum, bahan fortifikasi, dan bahan penunjang lainnya yang telah digunakan dalam jangka waktu tertentu. 8.  Human Resource Management  & Administration Department Bagian ini bertanggung jawab dalam hal penanganan upah dan kompensasi yang diberikan untuk karyawan. Selain itu bagian ini juga mengatur masalah penerimaan karyawan baru dan menjamin keamanan  pekerja. 9. Comptroller Department Bagian ini bertanggung jawab dalam mengatur pengeluaran perusahaan dan bagian ini dituntut untuk melakukan pengontrolan keuangan  perusahaan. 10. Treasurer Department Bagian ini bertanggung jawab dalam hal pembelian bahan dan peralatan lainnya yang diperlukan.

18

11. Information Technology Department  Bagian ini bertanggung jawab dalam penggunaan sistem perusahaan yang  berbasis

pada

teknologi,

baik

dalam

kegiatan

produksi

maupun

 perkantoran.

1.2 Latar Belakang Proses pengolahan gandum menjadi tepung terigu telah ada sejak zaman dahulu. Proses utama dalam pembuatan tepung terigu yaitu proses penggilingan yang bertujuan memecah gandum menjadi semolina dan middling. Meskipun menggunakan alat tradisional dan sederhana namun hasilnya cukup baik. Seiring  perkembangan teknologi pada dunia industri pangan khususnya tepung terigu telah mengalami kemajuan yang signifikan. Banyaknya penemuan akan hal-hal  baru, mendorong peralihan dari sistem manual menjadi sistem otomatis, yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Teknologi dan metode yang digunakan dalam  proses produksi berperan penting pada kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Keseluruhan sistem harus dapat bekerja maksimal dan memliki kehandalan yang tinggi demi menjaga efisiensi kerja sehingga meminimalisir terjadinya kegagalan produksi. Proses penggilingan tepung terigu di departemen Milling PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills tergolong modern karena telah menggunakan mesin penggiling gandum yang berbasis PLC ( Programmable  Logic Controller). Kontroler dapat berkomunikasi dengan operator melalui HMI (Human Machine Interface) serta dapat berkoordinasi dengan alat kontrol lainnya membentuk sistem Otomasi. Mesin penggilingan tersebut atau lebih dikenal dengan nama rollermill memliki kapasitas yang besar dan secara keseluruhan mampu memproduksi hingga ribuan ton perhari. Semua ini demi memenuhi kebutuhan pasar nasional yang sangat besar. Dari pemaparan tersebut muncul  pertanyaan bagaimana prinsip kerja dari rollermill, komponen apa saja yang mendukung kerja mesin rollermill, lalu bagaimana cara pengendaliannya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengambil topik mengenai pengendalian mesin

19

rollermill RMX 125Q

di Mill AB PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi

Bogasari Flour Mills.

1.3 Tujuan Praktek Kerja Lapangan Adapun tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktek di PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk Divisi Bogasari Flour Mills Departemen Automation adalah sebagai berikut: 1. Mengenali ruang lingkup kerja Departemen Automation PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk Divisi Bogasari Flour Mills. 2. Mempelajari dan menuliskan prinsip kerja dari mesin rollermill RMX 125Q pada Mill AB. 3. Mempelajari dan menuliskan mengenai cara pengendalian mesin rollermill RMX 125Q. 4. Membuat simulasi mengenai cara kerja mesin rollermill RMX 125Q.

1.4 Ruang Lingkup Pembahasan 1. Analisis prinsip kerja mesin rollermill RMX 125Q kode B1 pada plant MILL AB. 2. Mengenali komponen beserta fungsinya yang ada pada mesin rollermill  RMX 125Q. 3. Pengamatan / analisis yang dilakukan hanya pada pengendalian kecepatan  grinding rollermill RMX 125Q saja. 4. Membuat simulasi mengenai cara kerja mesin rollermill RMX 125Q menggunakan CX-ONE. 1.5 Sistematika Penulisan Pembahasan hasil penelitian praktik kerja lapangan ini terdiri dari 4 bab, yaitu : 1. Bab I. Pendahuluan. Pada bab ini merupakan pendahuluan yang akan menguraikan mengenai tinjauan umum perusahaan, latar belakang, tujuan  praktek kerja lapangan, ruang lingkup pembahasan dan sistematika penulisan laporan.

20

2. Bab II. Landasan Teori. Pada bab ini merupakan landasan teori yang berisi mengenai tinjauan pustaka yang erat kaitannya dengan pokok bahasan dan menguraikan mengenai proses produksi, pengenalan HMI,  Programmable  Logic Control, Inverter, Motor induksi, sistem pneumatik, profibus, sensor. 3. Bab III. Laporan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan. Pada bab ini merupakan hasil analisa kegiatan selama praktek kerja lapangan yang akan menguraikan tentang identifikasi topik mengenai mesin rollermill RMX 125Q, pengenalan mesin rollermill RMX 125Q, pengetahuan mengenai komponen utama rollermill RMX 125Q, pemahaman prinsip kerja dan membuat simulasi mesin rollermill RMX 125Q di MILL AB. 4. BAB IV. Kesimpulan dan Saran. Pada bab ini merupakan bagian penutup dari  penulisan laporan ini yang meliputi kesimpulan dan saran.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Proses Produksi 2.1.1 Penanganan Bahan Baku Bahan baku diimpor langsung dari negara pengekspor dan dikirim menuju Indonesia melalui jalur laut dengan menggunakan kapal milik PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. divisi Bogasari Flour maupun kapal milik negara  pengekspor. Pembongkaran dilakukan di dermaga pribadi bernama jetty. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. divisi Bogasari Flour Mills memilki dua dermaga (jetty), yaitu jetty A dan jetty B. Jetty A mampu menampung kapal dengan lebih kecil kapasitasnya jika dibandingkan dengan jetty B yang mampu menampung kapal dengan kapasitas yang lebih besar. Sebelum gandum disedot dari kapal, gandum di tes terlebih dahulu di Lab. Bogasari. Gandum yang disimpan pada  palka besar dalam bentuk curah, kemudian akan dihisap oleh pipa penghisap dan gandum akan dtransfer menggunakan  conveying system,  masuk kedalam hopper untuk proses penimbangan yang bekerja secara otomatis, lalu dibersihkan dengan separator dan magnet untuk memisahkan gandum dari kotoran berukuran besar (seperti kayu atau besi), lalu gandum dikirim dengan menggunakan   chain conveyor   ke Wheat Silo untuk disimpan. Gambar alur produksi terdapat pada lampiran 2. 2.1.2 Proses Pengolahan Bahan Baku Dari  wheat silo, sejumlah gandum  ditransfer   menuju  mills  menggunakan belt conveyor ,

chain conveyor , dan diangkat ke atas menggunakan   bucket

elevator , lalu masuk pada tahap pre cleaning . Banyaknya gandum yang dikirim ke mills  harus sesuai dengan kebutuhan  mills  yang didasarkan pada rencana target  produksi (RTP).

21

22

2.1.2.1 Tahap Cleaning Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan benda-benda asing seperti batu, kayu, besi, logam dan berbagai kotoran yang menempel pada butiran biji gandum, dan juga memisahkan bagian-bagian yang tidak sesuai. Pada tahap pembersihan mempunyai 3 bagian proses utama, yaitu : fase first cleaning, fase dampening, dan fase second cleaning.

A. Pembersihan pendahuluan (pre cleaning) Tujuan Pre Cleaning yaitu:

-

mencegah kerusakan mesin-mesin pada proses berikutnya, akibat ikutnya impurities yang berukuran besar.

-

Mengurangi maintenance pada peralatan cleaning.

-

Membuat kinerja mesin cleaning lebih efektif dan efisien.

-

Membuat aliran gandum lebih lancar, sehingga menambah homogenitas  pada saat blending atau mixing gandum.

-

Membuat kualitas penyimpanan gandum di dalam bin lebih baik.

Proses yang terjadi pada tahap ini yatu gandum masuk ke dalam   intake  separator   guna memisahkan gandum dari benda-benda asing yang berukuran  besar. Di dalam intake separator , produk yang ukurannya lebih besar dari ukuran lobang ayakan akan tailing   dan masuk ke dalam karung, sedangkan gandum atau  produk yang ukurannya lebih kecil dari ukuran lobang ayakan akan lolos ( passthrough) dan masuk ke dalam raw wheat bin. Peralatan Pre Cleaning yaitu: a. Drum Separator, berfungsi untuk pemisahkan berdasarkan beda ukuran.  b. Intake separator, berfungsi untuk pemisahkan berdasarkan beda ukuran, sama seperti drum separator hanya saja mesin ini digunakan pula di  first cleaning.

23

B. Pembersihan pertama (first cleaning) Secara garis besar, tahap  first cleaning   dimulai pada saat gandum mulai keluar dari raw wheat bin sampai pada masuknya gandum ke proses dampening  Pada tahap ini gandum akan dibersihkan dari benda-benda asing dengan menggunakan flow regulator  (FCA), magnetic separator , rotary intake separator , weigher   1st cleaning ,  tarara classifier   (TRC),  carter day,  scourer ,  tarara aspiration (TRR), dan dry stoner. Peralatan First Cleaning yaitu: a.  Flow regulator   (FCA), berfungsi mengatur kapasitas aliran gandum secara berat. Sebagai alat pencampur dua atau beberapa macam gandum sesuai dengan grist yang akan digiling atau diconditioning. Sebagai alat  pengukur kapasitas aliran gandum. b.  Magnet Separator , Berfungsi untuk memisahkan gandum dari material logam yang bersifat magnetic. c.  Rotary intake separator, berfungsi untuk pemisahan berdasarkan ukuran. d. Tarara classifier   (TRC), berfungsi mengklasifikasi produk yang masuk menjadi : Produk berat (gandum berat, batu) dan produk ringan (gandum ringan, black spot, broken wheat). Memisahkan gandum dari offal yang ringan (debu, kulit, batang). e. Carter day,  berfungsi untuk memisahkan gandum dari partikel lain  berdasarkan ukuran dan bentuk /panjang. Carter day terdiri dari indented disc separator (IDS). IDS terdiri dari cylinder long corn dan cylinder round corn. Gandum dengan berbagai ukuran beserta impuritiesnya masuk ke indented disc separator. Gandum dari IDS yang berukuran lebih kecil masuk ke cylinder round corn, sedangkan yang lebih besar masuk ke cylinder long corn.  f.

Scourer , terdiri dari 2 tipe yaitu vertical dan horizontal. Berfungsi untuk membersihkan gandum dari kotoran yang masih menempel pada  permukaan gandum atau pada crease gandum. Dengan cara menggosok / memoles (Scouring).

 g. tarara aspiration (TRR), berfungsi untuk membersihkan debu dan kulit

24

yang masih menempel pada gandum melalui hisapan udara aspiration. Digunakan untuk membersihkan debu dan kulit yang masih menempel  pada gandum setelah gesekan oleh mesin Horizontal Scourer. h. dry stoner, berfungsi memisahkan gandum dari material yang lebih berat dari gandum, tetapi berukuran sama/hampir sama dengan gandum.

C. Dampening Tahap pengkondisian merupakan tahap dimana akan ditambahkan sejumlah air ke dalam campuran gandum sehingga akan tercapai pada suatu karakteristik  pencampuran gandum yang optimal, yaitu ekstraksi yang tinggi dan kualitas tepung yang baik. Tahap ini dimulai pada saat gandum memasuki proses dampening   pertama sampai pada keluarnya gandum dari  tempering bin  sebelum dilakukan proses penggilingan. Proses pengkondisian terdiri dari pengkondisian  pertama ( first conditioning ) dan pengkondisian kedua ( second conditioning ). Peralatan Dampening yaitu: a. Mesin Dampening, berfungsi

untuk mencampurkan sejumlah air

kedalam gandum, untuk menambah kadar air gandum sehingga bisa mendapatkan karakteristik milling yang baik.

D. Pembersihan Kedua (Second cleaning) Tahap pembersihan kedua dimulai pada saat gandum keluar dari tempering bin kedua. Gandum akan dibersihkan di dalam  tarara aspiration (TRR). Gandum yang berasal dari proses pembersihan kedua tersebut akan ditampung dalam  buffer bin setelah mengalami proses penimbangan terlebih dahulu sebelum masuk pada  proses penggilingan. 2.1.2.2 Tahap Milling Tujuan utama dari proses milling   adalah memisahkan endosperm dari  bagian kulit gandum yang terdiri dari bran dan pollard . Selanjutnya endosperm tersebut direduksi menjadi tepung. Dalam milling proses ada tiga tahapan  yaitu breaking proses yang bertujuan memecah kulit gandum yang masih mengandung

25

endosperm. Selanjutnya masuk ke proses reduction yaitu proses mengubah  semolina  menjadi middling   yang selanjutnya direduksi menjadi tepung. Lalu masuk ke proses  purification dengan menggunakan alat purifier. Tujuan dari  proses ini adalah memisahkan semolina dan middling sehingga proses reduksi middling da reduksi semolina menjadi tepung l;ebih mudah. Berikut akan dijelaskan tahapan tahapannya, yaitu: A. Breaking Proses Tahap ini merupakan pemecahan biji-biji gandum yang akan digiling. Tujuannya yaitu merelease endosperm dari bran/germ dan memecahkan endosperm tersebut menjadi semolina dan middling. Produk yang diharapkan yaitu break flour dengan mengusahakan bran powder sekecil mungkin (ideal tidak ada bran powder). Pada umumnya proses ini terdiri dari empat tingkat (B1 s/d B4) atau lima tingkat (B1 s/d B5). Mesin yang digunakan yaitu break rollermill (fluted rolls dan break sifter). Pada tingkat akhir break proses, bertujuan merelease sisa endosperm dari bran dan menjadikan middling dan tepung menggunakan bran finisher dan vibro finisher. Peralatan Breaking proses yaitu: a. Break Roller mills, berfungsi memecah gandum bersih hasil dari proses cleaning. Gandum dibuka/dipecahkan dengan memakai Roller yang  bergigi (Fluted roller).  b.  Break shifter , berfungsi mengayak atau memisahkan produk berdasarkan granulasi. Prinsip kerja alat ini adalah dengan memberi gerakan pada sifter dan produk dialirkan melalui ayakan-ayakan. c. Bran fisnisher, berfungsi untuk mengambil/merelease sisa endosperm yang ada pada lapisan dekat dengan aleurone cell menjadi middling dan Tepung yang sticky. Hasil dari ekstraksi dari bran fi nisher sekitar 2 -4%. d. Vibro Finisher (FVA), berfungsi mengayak produk yang sangat lengket (sticky) dari Bran finisher & Filter, yang sulit diayak oleh plansifter. Hasil akhirnya yaitu partikel fine bran.

26

B. Purification Process Tahap ini adalah proses memisahkan/ membersihkan Semolina dan Middling  dari Bran supaya Semolina dan Middling   menjadi bersih (endosperm murni tanpa  bran). Semolina dan middling bersih dapat diklasifikasi menjadi Coarse Semolina, Fine semolina, Coarse middling, fine middling. Peralatan Purification Process yaitu: a. Purifier, berfungsi untuk memisahkan partikel bran yang terdapat pada semolina atau middling hingga pada proses sizing dan proses middling endosperm yg digiling adalah pure semolina atau pure middling dan tepung yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik (ash content tepung rendah).

C. Reduction Process Tahap ini bertujuan untuk mereduksi semolina menjadi middling dan Tepung. Proses ini disebut juga Sizing Proses.  Setelah proses diatas middling direduksi kembali menjadi Tepung, proses ini disebut juga  Middling Proses. Lalu masuk ke tailing proces untuk mereduksi middling yang bercampur bran menjadi tepung serta Memisahkan germ dengan menekan germ menjadi flat (pipih). Peralatan Reduction process yaitu: a. Rollermill yang umumnya menggunakan Smooth Roll  yang berfungsi untuk mereduksi semolina menjadi middling dan tepung.  b. Reduction Shifter yang berfungsi untuk memisahkan bran atau germ (scalp off), menghasilkan tepung (flour redressing) dan memisahkan endosperm menurut ukuran (grading). 2.1.3 Proses Pengemasan Hasil dari proses milling   berupa tepung terigu, kemudian dikirim ke   Flour Silo  untuk dikemas dan dicurah. Sebelum tahap pengemasan dilakukan  penyaringan terakhir (rebolt shifter ) untuk memastikan tidak ada benda asing dari tepung. Tepung yang akan dicurah, sebelumnya disimpan di dalam gudang  penampungan tepung curah (hopper ). Sedangkan tepung yang akan dipacking

27

ditempatkan di  Flour Packing   yaitu untuk tepung dalam kemasan 25 kg. Untuk tepung yang akan diekspor, tepung yang sudah siap dipasarkan, disimpan terlebih dahulu di FPS  Export Flour   yaitu gudang penampungan tepung ekspor dan dipacking di  Consumer Packing,  dimana di tempat ini dilakukan proses  pengepakan tepung untuk 0,5 kg sampai 2 kg. 2.2 Pengenalan mengenai HMI (Human Machine Interface) 2.2.1 Definisi HMI Human Machine Interface (HMI) merupakan perangkat lunak / software yang berfungsi untuk monitoring dan kontrol plant berbasis visual. HMI berfungsi untuk menampilkan data pada operator dan menyediakan input kontrol bagi operator dalam berbagai macam bentuk sesuai data yang akan di kontol / dimonitor seperti grafik, skematik, jendela, manu pull-down, touch screen dan la in sebagainya. HMI dapat berupa touch screen device ataupun komputer itu sendiri. HMI (Human Machine Interface) adalah tampilan penghubung antara manusia dengan mesin. HMI juga merupakan user interface dan sistem kontrol untuk manufaktur. Denganmembuat desain HMI yang sesuai, akan membuat  pekerjaan fisik lebih mudah. pada hampir semua solusi teknis, efektifitas dari HMI adalah dapat memprediksi penerimaan user terhadapseluruh solusi yang ada. Konsep HMI yang modern pada industri adalah sebagai mediakomunikasi antara operator dengan perancangan yang secara ideal mampu memberikaninformasi yang

diperlukan,

agar

perencanaan

yang

dilakukan

dengan

tingkat

efisiensimaksimum. HMI merupakan sarana bagi operator untuk mengakses sistem otomasi di lapangan yang meliputi operasional , pengembangan, perawatan troubeleshooting (Amin,2014). 2.2.2 Macam Tampilan HMI Terdapat dua macam tampilan yaitu objek statis dan objek dinamik. a. Objek statis, yaitu objek yang berhubungan langsung dengan peralatan atau database. Contoh: teks statis, dan layout unit produksi.

28

 b. Objek dinamik, yaitu objek yang memungkinkan operator berinteraksi dengan proses, peralatan atau database serta memungkinkan operator melakukan perawatan atau perbaikan. Contoh: push button, lights, dan charts. 2.2.3 Manajemen Alarm Suatu sistem yang besar dapat memonitor sampai dengan banyak alarm. Dengan banyak alarm tersebut dapat membingungkan operator. Setiap alarm harus dikenali dan diketahui oleh operator agar dapat dilakukan perawatan atau  perbaikan yang sesuai dengan jenis alarm. Oleh karena itu dibutuhkan suatu manajemen alarm dengan tujuan untuk memudahkan operator atau petugas teknisi untuk melihat kondisi suatu mesin atau alat tersebut. 2.2.4 Macam Penggunaan HMI Dari penggunaannya, HMI terdiri atas : a. HMI Server atau Developer. HMI Server ini digunakan untuk membangun suatu sistem yang terintegrasi antara plant, akuator, PLC, jaringan lain, database, masukan, kontrol, dan lain-lain.  b. HMI Viwer + Editor HMI Viwer hanya berfungsi untuk monitoring atau viewer saja, dan tidak dapat digunakan sebagai development tools, sedangkan editor  berfungsi untuk mempresentasikan fasilitas plant secara visual. 2.3 Programmable Logic Controller (PLC) 2.3.1 Defifnisi PLC Sistem proses kontrol terdiri atas sekumpulan piranti-piranti dan peralatan peralatan

elektronik

yang

mampu

menangani

kestabilan,

akurasi,

dan

mengeliminasi transisi status yang berbahaya dalam proses produksi. Masingmasing

komponen dalam sistem kontrol proses tersebut memegang peranan

 pentingnya masing-masing, tidak peduli ukurannya. Misalnya saja, jika sensor

29

tidak ada atau rusak atau tidak bekerja, maka sistem kontrol proses tidak akan tahu apa

yang terjadi dalam proses yang sedang berjalan. Sebuah PLC

(Programmable Logic control) adalah sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan relay yang dijumpai  proses konvensional. PLC

pada sistem kontrol

bekerja dengan cara mengamati masukan (melalui

sensor-sensor terkait), kemudian melakukan proses dan melakukan tindakan sesuai yang dibutuhkan, yang berupa menghidupkan atau mematikan keluarannya (logika 0 atau 1, hidup atau mati) (Dr.Agfianto Eko Putra, 2008). Pengguna membuat program (yang umumnya dinamakan diagram tangga atau

ladder

diagram) yang kemudian harus dijalankan oleh PLC yang bersangkutan, Dengan kata lain, PLC menentukan aksi apa yang harus dilakukan pada instrumen keluaran berkaitan dengan status suatu ukuran. Definisi sederhana PLC dapat dilihat dari kepanjangannya, yaitu: a. Programmable yang berarti dapat diprogram (software based). b. Logic yang berarti bekerja pada logika yang dibuat. Logika disini terdiri hanya keadaan ON dan OFF. c. Control yang berarti pengendali (otak) dari suatu sistem. 2.3.2 Komponen  –  Komponen PLC A. Central Processor Unit (CPU) CPU bekerja berdasarkan mikroprosesor yang bekerja menggantikan fungsi relay, counter, timer dan sequencers, sehingga programmer bisa membuat semua rangkaian yang menggunakan fungsi-fungsi rela y. B. Power Supply Unit (Unit Catu Daya) Power supply berguna sebagai penyedia daya bagi PLC, tegangan pada  powersupply bisa berupa tegangan AC (120/240 V) dan tegangan DC (24 V). Daya tersebut digunakan untuk berbagai modul PLC lainnya selain modul tambahan yang digunakan sebagai memory backup pada PLC. Jadi seandainya power supply mati, dengan adanya memory backup tersebut, maka isi memori akan tetap terjaga. PLC juga memiliki power supply (24

30

V DC) internal yang bisa digunakan untuk menyediakan daya bagi input/output PLC. C. Memory Unit ini merupakan tempat penyimpanan program.Biasanya unit ini terdiri dari RAM (Random Acces Memory), ROM (Read Only Memory), EEPROM (Programmable Read Only Memory).Memory yang terdapat dalam PLC berfungsi untuk menyimpan program dan memberikan lokasilokasi dimana hasil-hasil perhitungan dapat disimpan didalamnya. RAM mempunyai waktu akses yang cepat dan program-program yang terdapat didalamnya dapat diprogram ulang sesuai dengan keinginan pemakainya. RAM disebut juga sebagai volatile memory, maksudnya program-program yang tersimpan mudah hilang jika supply listrik padam. Dengan demikian untuk mengatasi supply listrik yang padam tersebut maka diberi supply cadangan daya listrik berupa baterai yang disimpan pada RAM. Baterai ini mempunyai jangka waktu kira-kira lima tahun sebelum harus diganti. Berikut ini adalah jenis-jenis memori yang terdapat didalam PLC: a. Spesial Relay Special relay (SR) merupakan relay yang menghubungkan fungsifungsi khusus seperti flag ,misalnya: instruksi penjumlahan terdapat kelebihan digit pada hasilnya (carry flag), kontrol bit PLC, informasi kondisi PLC, dan system clock (pulsa). (Auriza Saputra, PENS, 2006).  b. Auxiliary Relay (AR) Auxiliary relayterdiri dari flags dan bit untuk tujuan khusus. Dapat menunjukkan kondisi PLC yang disebabkan oleh kegagalan sumber tegangan, kondisi special I/O, kondisi input/output unit, kondisi CPU PLC, memori PLC dan lain-lain. c. Holding Relay Holding relay(HR) dapat difungsikan untuk menyimpan data (bit-bit  penting) karena tidak hilang walaupun sumber tegangan PLC mati d. Link Relay

31

Link relay(LR) digunakan untuk data link padaPLC link system. Link systemdigunakan untuk tukar-menukar informasi antar dua PLC atau lebih dalam satu sistem kendali yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan PLC minimum dua unit. e. Temporary Relay Temporary relay(TR) berfungsi untuk menyimpan sementara kondisi logika program pada

ladder diagram

yang mempunyai titik

 percabangan khusus. f. Timer/Counter Timer/counter(T/C) untuk mendefinisikan suatu waktu tunda /time delay

(timer) ataupun untuk menghitung (counter). Untuk timer

mempunyai orde 100 ms, ada yang mempunyai orde 10 ms yaitu TIMH (15). Untuk TIM 000 sampai dengan TIM 015 dapat dioperasikan secara interrupt untuk mendapatkan waktu yang lebih presisi. g. Data Memory Data memory (DM) berfungsi untuk menyimpan data-data program karena isi DM tidak akan hilang (reset) walaupun sumber tegangan PLC mati. h. Upper Memory Upper memory(UM) berfungsi untuk menyimpan dan menjalankan  program. Kapasitas tergantung dari pada masing-masing tipe PLC yang dipakai.Semua memori (selain DM dan UM) dapat dibayangkan sebagai relay yang mempunyai koil, kontak NO (Normally Open) dan NC

(Normally

dibayangkan seperti

Close).

Timerdan Counter

timer dan Counter

juga dapat

pada umumnya dan

mempunyai kontak NO dan NC. DM tidak mempunyai kontak, hanya ada channel/wordsaja.DM dapat difungsikan untuk menyimpan datadata penting yang tidak boleh hilang waktu sumber tegangan mati atau memanipulasi program. i.

Input dan output module

32

Modul I/O

merupakan modul masukan (input) dan modul keluaran

(output) yang bertugas mengatur hubungan PLC dengan piranti eksternal atau

peripheral

yang bisa berupa suatu

computer host,

saklar-saklar, unit penggerak motor, dan berbagai macam sumber sinyal yang terdapat dalam plant. Input merupakan unit yang memberikan sinyal masukan

ke dalam CPU Unit output adalah unit yang

mengirimkan sinyal hasil pengolahan data CPU ke bagian beban. Misal: relai, lampu, dll.  j.

Programming Device Digunakan untuk memasukkan program yang akan difungsikan yang disimpan kemdalam memori. Program tersebut di buat dengan menggunakan perangkat ini, kemudian dipindahkan ke dalam unit memori PLC.

2.3.3 PLC Siemens SIMATIC S7-400 PLC Siemens SIMATIC S7-400 merupakan PLC yang paling handal dalam  jenisnya SIMATIC controllers. Hal ini dapat diotomatisasi dengan Totally Integrated Automation (TIA) Portal. S7-400 dalam automation merupakan  platform untuk solusi sistem produksi dan proses teknik, dan itu ditandai terutama oleh modularitas dan cadangan kinerja. Dengan beberapa modul yang komprehensif . Operasi simultan dari beberapa CPU dalam satu S7-400 pusat controller maka akan mendistribusikan kekuatan kinerja suatu S7-400. Sebagai contoh, tugas-tugas yang kompleks dapat dibagi menjadi tekniologi seperti kontrol loop terbuka, komputasi atau komunikasi, dan dapat kerja untuk CPU yang berbeda. Setiap CPU dapat diberikan I/O yang berbeda. S7-400 dan komunikasi interfaces yang dapat dihubungkan langsung ke CPU memungkinkan operasi kinerja yang tinggi dari sejumlah jalur komunikasi. Hal ini memungkinkan, misalnya pembagian ke dalam satu jalur komunikasi untuk HMI dan tugas pemrograman, satu untuk kinerja yang tinggi dengan komponen kontrol gerakan yang berjarak sama, dan satu untuk "normal" I /Ofieldbus. Selain

33

itu koneksi yang diperlukan untuk MES/sistem ERP atau Internet dapat juga diimplementasikan. PLC Siemens SIMATIC S7-400 ini memiliki karakteristik sebagai berikut : Tabel 2.1 Spesifikasi Siemens SIMATIC S7-400 Spesifikasi 1.

Application: High-end performance range

2.

Type of CPU: Standard CPU, Fail-safe (F) CPU, Redundant (H) CPU

3.

CPU: CPU 412, CPU 414, CPU 416, CPU 417

4.

Program and Data Memory: from 288KB (CPU 412) to 30MB (CPU 417)

5.

Execution Time for Bit Operation: 0.075s (CPU 412) to 0.018s (CPU 417)

6.

Types of Modules (1): DI, DO, AI, AO, Counter, Cam Controller, Positioning

7.

Types of Modules (2): Universal Closed Loop Controller, Radio Clock 

8.

Max. IO Address: 16384 / 16384 byte

9.

Rack: UR1, UR2-H, CR2, for 18 Modules / UR2, ER2 for 9 Modules

10.

Redundancy: Hot Standby Redundant for CPU 412-3H, CPU 414-4H, CPU 417-4H

11.

Distributed IO System: ET200S, ET200pro

12.

Communication via CP: PPI, AS-Interface, Profibus, Profinet

13.

Software: Step 7, Step 7 Professional (LD, FBD, IL, SCL, S7Graph, CFC)

34

2.3.3.1 SIMATIC S7-400,CPU 416-3 PN/DP

sumber:katalog siemens

Gambar 2.1 CPU 416-3 PN/DP

Tabel 2.2 Spesifikasi Siemens SIMATIC S7-400, CPU 416-3 PN/DP 1. 16 MB Working Memory 2. (8 MB KB CODE, 8 MB DATA) 3. High-performance CPUs in the high-end performance range 4. Applicable for plants with high requirements in the high-end performance range 5. Integrated PROFINET functions in CPU 416-3 PN/DPgeneral Interfaces: 1. IF MPI/DP 12 MBIT/S (X1 2. IF ETHERNET/PROFINET (X5) 3. IF IF964-DP PLUGABLE (IF1)

35

2.3.3.2 SIMATIC S7-400,POWER SUPPLY 407 4 A

sumber:katalog siemens

Gambar 2.2 SIMATIC S7-400,POWER SUPPLY 407 4 A Tabel 2.3 Spesifikasi Power supply 407 4 A

Spesifikasi 1.

Power supplies for SIMATIC S7-400

2.

For conversion of AC or DC line voltages to the 5 V DC and 24 V DC operating voltages required

3.

4 A, 10 A and 20 A output currents

In addition: SIPLUS power supply 6AG1 405-0KA02-2AA0 for temperature range of 1.

25 to +60 °C and use under medium load (e.g. chlorine/sulfur atmosphere). Technical specifications similar to 6ES7 405-0KA02-0AA0 SIPLUS power supply 6AG1 407-0KA02-4AA0 for use under medium load

2.

(e.g. chlorine/sulfur atmosphere). Technical specifications similar to 6ES7 407-0KA02-0AA0 SIPLUS power supply 6AG1 407-0KR02-4AA0 for use under medium load

3.

(e.g. chlorine/sulfur atmosphere). Technical specifications similar to 6ES7 407 0KR02-0

36

2.3.4 PLC Siemens SIMATIC S7-200 Mikro PLC SIMATIC S7-200 merupakan yang terbaik dikelasnya, kompak dan sangat kuat, terutama respon real-time - sangat cepat, dilengkapi pilihan komunikasi yang besar. Perangkat lunak dan perangkat keras mudah untuk dioperasikan. Selain itu Mikro PLC SIMATIC S7-200 memiliki desain modular kompak, untuk solusi khusus yang tidak terlalu besar, tapi cukup fleksibel untuk diperluas kapan saja di masa depan. Semua ini membuat SIMATIC S7-200  pilihan yang cocok untuk kontrol loop terbuka di kisaran kinerja yang lebih rendah. Fitur dari keluarga SIMATIC S7-200: 

kinerja yang kuat,



modularitas optimal dan



komunikasi terbuka.

Selain itu, tool pemrograman SIMATIC S7-200 membuat pekerjaan Anda lebih mudah. PLC Micro ini mudah untuk diprogram se hingga mudah direalisasi dan cepat untuk diaplikasikan, serta add-on pada perangkat lunak mempercepat konfigurasi fungsi khusus. 2.3.4.1 Siemens S7-200 CPU 224-1AD23-OXBO

sumber:katalog siemens

Gambar 2.3 Siemens S7-200 CPU 224-1AD23-OXBO

37

Tabel 2.4 Spesifikasi S7-200 CPU 224-1AD23-OXBO

Siemens S7-200 PLC CPU Analogue, Digital, Transis tor Output Computer, SIMATIC PG/PC Interface, 12 kB Program Capacity Battery Backup Yes Communication Port Type

RS485

Depth

62mm

Dimensions

80 x 120.5 x 62 mm

For Use With

SIMATIC S7-200 Series

Input Type

Analogue, Digital

Length

80mm

Manufacturer Series

S7-200

Maximum Baud Rate

187.5 kbit/s

Maximum Inputs/Outputs

203 (168 Digital, 35 Analogue)

Maximum Operating Temperature

+45°C

Minimum Operating Temperature

0°C

Mounting Type

Rack

 Number of Communication Ports

1

 Number of I/O

24

 Number of Inputs

14

 Number of Outputs

10

Output Current

750 mA

Output Type

Analogue, Digital, Transistor

Program Capacity

12 kB

Programming Interface

Computer, SIMATIC PG/PC

Programming Language Used

AWL, FUP, Ladder Logic

Scan Time

0.22 μs

Total Memory Available

8 (Data Memory) kB, 12 (Program Memory) kB

Voltage Category

20.4 → 28.8 V dc

Width

120.5mm

38

2.3.4.2 Siemens S7-200 POWER SUPPLY SITOP POWER 2

sumber:www.rs-online.uk 

Gambar 2.4 Siemens S7-200 POWER SUPPLY SITOP POWER 2 Tabel 2.5 Siemens S7-200 POWER SUPPLY SITOP POWER 2

Depth

62mm

Dimensions

80 x 160 x 62 mm

For Use With

S7-200 Series

Length

80mm

Line Voltage

93 → 132 V ac, 187 → 264 V ac

Manufacturer Series

S7-200 Series

Maximum Operating Temperature

+60°C

Minimum Operating Temperature

0°C

Output Current

2A

User Power Output Voltage

24V dc

Width

160mm

2.4 Inverter Inverter / variable frequency drive / variable speed drive merupakan sebuah alat pengatur kecepatan motor dengan mengubah nilai frekuensi dan tegangan yang masuk ke motor. pengaturan nilai frekuensi dan tegangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan kecepatan putaran dan torsi motor yang di inginkan atau sesuai dengan kebutuhan. Secara sederhana prinsip dasar inverter untuk dapat

39

mengubah frekuensi menjadi lebih kecil atau lebih besar yaitu dengan mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC kemudian dijadikan tegangan AC lagi dengan frekuensi yang berbeda atau dapat diatur (Trikueni Dermanto, 2013).

sumber: trikueni-desain-sistem.blogspot.com

Gambar 2.5 Rangkaian dasar Inverter

Untuk mengubah tegangan AC menjadi DC dibutuhkan penyearah (converter AC-DC) dan biasanya menggunakan penyearah tidak terkendali (rectifier dioda) namun juga ada yang menggunakan penyearah terkendali (thyristor rectifier). Setelah tegangan sudah diubah menjadi DC maka diperlukan perbaikan kualitas tegangan DC dengan menggunakan tandon kapasitor sebagai perata tegangan. Kemudian tegangan DC diubah menjadi tegangan AC kembali oleh inverter dengan teknik PWM (Pulse Width Modulation). Dengan teknik PWM ini bisa didapatkan amplitudo dan frekuensi keluaran yang diinginkan. Selain itu teknik PWM juga menghasilkan harmonisa yang jauh lebih kecil dari pada teknik yang lain serta menghasilkan gelombang sinusoidal, dimana kita tahu kalau harmonisa ini akan menimbulkan rugi-rugi pada motor yaitu cepat panas. Maka dari itu teknik PWM inilah yang biasanya dipakai dalam mengubah tegangan DC menjadi AC (Inverter). 2.4.1 Inverter Siemens Micromaster Micromaster 420 adalah inverter yang cocok sebagai driver untuk aplikasi  penggunaan variabel kecepatan. Biasanya digunakan untuk pompa, kipas, dan konveyor. Berikut adalah tabel spesifikasinya:

40

sumber:katalog siemens

Gambar 2.6 micromaster 420 Tabel 2.6 spesifikasi MICROMASTER 420 inverter

MICROMASTER 420 inverter Mains voltage and power ranges 1 AC 200 V to 240 V ± 10 % 0.12 kW to 3 kW 3 AC 200 V to 240 V ± 10 % 0.12 kW to 5.5 kW 3 AC 380 V to 480 V ± 10 % 0.37 kW to 11 kW Power frequency 47 Hz to 63 Hz Output frequency 0 Hz to 650 Hz Power factor 0.95 Inverter efficiency 96 % to 97 % Overload capability Overload current 1.5 x rated output current Inrush current Less than rated input current Control method Linear V/f-characteristic; quadratic V/f characteristic; multipoint characteristic (programmable V/f characteristic); flux current control (FCC) Pulse frequency 16 kHz (standard with 1/3 AC 230 V 4 kHz (standard with 3 AC 400 V) 2 kHz to 16 kHz (in 2 kHz steps) Fixed frequencies 7, programmable Skip frequency ranges 4, programmable Setpoint resolution 0.01 Hz digital 0.01 Hz serial 0.02 10 bit analog Digital inputs 3 fully programmable isolated digital inputs; switchable PNP/NPN Analog input 1, for setpoint or PI controller (0 V to 10 V, scaleable or for use as 4th digital input) Relay outputs 1, programmable, 30 V DC/5 A (resistive load); 250 V AC/2A (inductive load) Analog output 1, programmable (0 mA to 20 mA) Serial interfaces RS-485, optional RS-232 Motor cable lengths max. 50 m (shielded) without output choke 

41

without output choke Electromagnetic compatibility 

Braking Degree of protection Operating temperature Relative humidity Protection features

max. 100 m (unshielded) Inverter available with internal EMC filter Class A; available as options are EMC filters t o EN 55 011, Class A or Class B DC braking, compound braking IP20  – 10 °C to +50 °C (+14 °F to +122 °F) 95 % (non-condensing) • Undervoltage • Overvoltage • Overload • Earth faults • Short circuit • Stall prevention • Locked motor protection • Motor overtemperature • Inverter overtemperature

2.5 Motor Induksi 3 Fasa Motor induksi 3 phase merupakan motor arus bolak-balik (AC) yang paling  banyak digunakan sebagai aktuator yang merubah energi listrik menjadi energi gerak.untuk berbagai keperluan dalam proses produksi pada suatu industri. Konstruksinya yang sederhana dan kuat mendasari alasan keluasan pemakaianya. Dengan menggunakan motor induksi 3 phase, banyak hal yang bisa dilakukan antara lain yaitu mengatur arah putaran dan kecepatan putaran.Prinsip operasi dari motor induksi ini berdasarkan induksi elektromagnet dari kumparan-kumparan dalam motor tersebut oleh karenanya motor ini dikenal dengan istilah motor induksi (2014, Agus Putranto).

sumber:www.alibaba.com

Gambar 2.7 motor induksi 3 fasa 30 KW

42

Motor induksi tiga fasa memiliki dua komponen dasar yaitu stator dan rotor,  bagian rotor dipisahkan dengan bagian stator oleh celah udara yang sempit (air gap) dengan jarak antara 0,4 mm sampai 4 mm. Tipe dari motor induksi tiga fasa  berdasarkan lilitan pada rotor dibagi menjadi dua macam yaitu rotor belitan (wound rotor) adalah tipe motor induksi yang memiliki rotor terbuat dari lilitan yang sama dengan lilitan statornya dan rotor sangkar tupai (Squirrel-cage rotor) yaitu tipe motor induksi dimana konstruksi rotor tersusun oleh beberapa batangan logam yang dimasukkan melewati slot-slot yang ada pada rotor motor induksi, kemudian setiap bagian disatukan oleh cincin sehingga membuat batangan logam terhubung singkat dengan batangan logam yang lain. Apabila sumber tegangan 3 fase dipasang pada kumparan stator, akan timbul medan putar dengan kecepatan seperti rumus berikut.  Ns



 ..............................................................................(1) 

Menghitung daya motor 3 fasa: P =           .......................................................................(2) Menghitung daya output motor: P =               ............................................................(3) Menghitung torsi motor T = F x D..............................................................................................(4)

dimana:  Ns = Kecepatan Putar (Rpm);

T = Torsi (Nm)

f = Frekuensi Sumber (Hz);

F = Gaya (Newton)

 p = Kutub motor;

D = jarak (m)

V = tegangan Volt;

eff = efisiensi

P = Daya motor (Watt)

43

2.6 Sistem Pneumatic Sistem pneumatik adalah suatu sistem yang menggunakan udara sebagai media kerjanya, dimana untuk menghasilkan kerja tersebut udara dimampatkan terlebih dahulu. Sistem-sistem pneumatik terutama terdiri dari suatu kompresor udara atau perapat udara (sumber udara mampat), motor-motor udara mampat (pemakai-pemakai udara mampat) ditambah dengan bagian-bagian pengatur dan  pengendali. Berikut adalah sistem pneumatic di Industri (anonim, 1993).

sumber: wahyukustriratno-pneumatic.blogspot.com

Gambar 2.8 Sistem Pneumatic

Keterangan gambar: 1. Kompresor adalah peralatan yang dipergunakan untuk menghasilkan udara kempa, udara akan diserap dan dimampatkan oleh kompresor yang digerakkan oleh motor listrik. 2. After Cooler, salah satu alat yang digunakan untuk mendinginkan udara kempa dengan menggunaka air atau media lain yang dapat berfungsi sebagai pendingin udara kempa. 3. Main Line Air Filter, peralatan yang berfungsi untuk mengeleminir debu dan air serta kandungan minyak pada udara kempa. 4. Refrigerated Air Dryer, alat ini berfungsi untuk mengeringkan udara  basah atau udara yang masih mengandung embun atau titk air, sehingga dapat menghasilkan udara kempa yang benar-benar kering.

44

5. Air Filter, alat ini dipergunakan untuk menyaring debu yang terbawa oleh air. 6. Air Pressure Reducing Valve, berfungsi untuk mereduksi udara kempa  pada batas yang dikehendaki dan menjaga agar tetap konstan pada saat digunakan. 7. Air Lubricator, alat ini berfungsi untuk mensuplai pelumas kedalam udara kempa dengan menggunakan aliran udara sehingga peralatan dapat  bekerja dengan halus dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang  panjang. 8. Air Silincer, berfungsi untuk mereduksi nozel yang timbul sampai pada  batas yang aman. 9. Air

Flow

(Change

Selenoide

Valve),

berfungsi

untuk

merubah(mengubah) aliran lkangsung dari kompresor dengan cara membuka atau menutup katup yang menerima singnal elektrik. 10. Speed Control Valve, berfungsi mengontrol kecepatan silinder dengan mengatur valve aliran dari udara kempa. 11. Air Cylinder, berfungsi untuk merubah energi udara kempa menjadi gaya yang efektif dan gerakan.

sumber: budihartono.blog.uns.ac.id

Gambar 2.9 Klasifikasi sistem Pneumatik

45

2.7 Profibus Profibus adalah sistem komunikasi digital dengan berbagai aplikasi yang luas, khususnya dibidang pabrik dan proses otomatisasi. Profibus cocok untuk kedua keunggulan yaitu, waktu-aplikasi kritis yang cepat dan tugas komunikasi yang kompleks. Komunikasi Profibus berlabuh dalam standar internasional IEC 61.158 dan 61.784 IEC. Aspek aplikasi dan engineering ditentukan dalam pedoman umum dari PROFIBUS User Organization (organisasi pengguna profibus). Pengguna ini memenuhi permintaan untuk produsen independensi dan adanya keterbukaan serta menjamin komunikasi antar perangkat dari berbagai produsen.( Teguh Edi Sulistiyo,2013)

sumber: www.automation.com

Gambar 2.10 Contoh Jaringan Profibus

2.7.1 Jenis Profibus a. PROFIBUS DP (Decentralized Periphery) adalah tujuan utamanya untuk  pabrik otomatisasi, hal itu menggunakan teknologi transmisi RS485. Suatu versi protokol komunikasi DP dan satu atau lebih type aplikasi profil dari  pabrik otomatisasi, adalah seperti ident Sistem atau Robot / NC.

46

 b. PROFIBUS PA (Process Automation) adalah tujuan utamanya untuk proses otomatisasi, biasanya dengan teknologi transmisi MBP-IS, protokol komunikasi versi DP-V1 dan perangkat profil aplikasi PA. c. MOTION CONTROL dengan PROFIBUS adalah tujuan utamanya untuk Teknologi drive (inverter)

menggunakan teknologi transmisi RS485,

 protokol komunikasi versi DPV2 dan profil aplikasi PROFIdrive d. PROFISAFE adalah

tujuan

utamanya

untuk

keamanan

(penggunaan

universal hampir untuk semua industri), teknologi transmisi menggunakan RS485 atau MBP-IS, salah satu DP tersedia versi untuk komunikasi dan  profil aplikasi PROFISAFE. 2.7.2 Teknologi Transmisi Ada berbagai macam teknologi transmisi yang dapat digunakan untuk  profibus: a. RS485 adalah teknologi transmisi yang paling umum digunakan. Itu menggunakan kabel shielded twisted pair dan memungkinkan tingkat transmisi sampai 12 Mbit / detik.  b. RS485-IS adalah teknologi baru yang baru-baru ini ditetapkan sebagai media 4-kawat di jenis perlindungan EEx-i untuk digunakan dalam area explosion proof. Hal itu dilakukan dengan cara menentukan tingkat tegangan dan arus yang mengacu pada keselamatan yang relevan. Maksimum nilai-nilainya tidak boleh melebihi baik dalam perangkat individu atau selama interkoneksi dalam sistem. c. Teknologi transmisi MBP (Manchester coded, Bus Powered), tersedia untuk aplikasi dalam proses otomatisasi dengan permintaan untuk bus  powering dan intrinsik keamanan perangkat. d. Transmisi Fiber optik   sangat cocok untuk digunakan di daerah dengan gangguan elektromagnetik yang tinggi atau di mana jarak jaringan yang lebih besar (panjang).

47

2.8 Sensor dan transduser Sensor adalah alat yg digunakan untuk mendeteksi dan sering berfungsi untuk mengukur magnitude sesuatu. Sensor adalah jenis transduser yg digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik. Sensor biasanya dikatagorikan melalui pengukur dan memegang  peranan

penting

dalam

pengendalian

proses

pabrikasi

modern.

Sensor

memberikan ekivalen mata, pendengaran, hidung, untuk otak mikroprosesor dari sistem otomatisasi industri. 2.8.1 Sensor Kedekatan (Proximity) 1. Sensor kedekatan induktif Sensor kedekatan induktif adalah alat yg merasakan keberadaan suatu objek logam. Prinsip kerjanya adalah jika ada logam mendekat maka aka nada arus listrik dibangkitkan pada sensor tersebut. Sensor induktif terdiri dari kumparan, osilator, rangkaian detektor dan output elektronis (Digdyo Santoso,academica.edu).

sumber: academica.edu

Gambar 2.11 Rangkaian dalam sensor induktif

48

sumber: academica.edu

Gambar 2.12 cara kerja sensor induktif

Berdasarkan gambar diatas, ketika terdapat benda mendekati dan mengenai medan magnet, maka amplitudo oscilator mengecil, dan kontak menjadi on.

sumber: www.google.images.com

Gambar 2.13 Probe sensor induktif

2. Sensor kapasitif bekerja berdasarkan prinsip pengukuran kapasitansi dari sensed material (material yang di

sensor). Cakupan material tersebut

mulai dari ferro (besi), steel (baja), alumunium, copper (tembaga), bronze (kuningan) bahkan hingga air sekalipun. Sensor kedekatan kapasitif adalah alat yang merasakan object yang diaktifkan oleh bahan konduktif dan nonkonduktif. Kerja sensor kapasitif juga didasarkan pada prinsip osilator. Meskipun demikian, kumparan sisi aktif dari sensor kapasitif yang dibentuk oleh dua elektroda logam agak mirip dengan kapasitor terbuka. Electrode-elektrode ditempatkan pada loop umpan balik dari osilator frekuensi tinggi yang tidak aktif dengan “tanpa target”. Pada saat target mencapai sisi sensor, target memasuki medan elektrostatis yang dibentuk oleh

elektroda-elektroda.

Ini

menyebabkan

kenaikan

kapasitansi

 perangkaian, dan rangkaian mulai berosilasi. Amplitudo osilasi diukur

49

dengan rangkaian pengevaluasian yang membangkitkan sinyal untuk menghidupkan

atau

mematikan

output

elektronis

(Digdyo

Santoso,academica.edu).

sumber: www.academica.edu

Gambar 2.14 konstruksi sensor kapasitif

Jika diberi beda tegangan antara kedua lempeng logam tersebut, maka akan timbul kapasitansi antara kedua logam tersebut. Nilai kapasitansi yang ditimbulkan berbading lurus dengan luas permukaan lempeng logam , berbanding terbalik dengan jarak antara kedua lempeng dan berbading lurus dengan zat antara kedua lempeng tersebut (dielektrika), seperti ditunjukkan oleh persamaan berikut : C=

 ................................................................................(5) 

Dimana : ε0 : permitivitas ruang hampa (8,85.10 -12 F/m) εr : permitivitas relatif (udara = 1) A : luas plat/lempeng dalam m 2 d : jarak antara plat /lempeng dalam m

50

sumber: www.google.image.com

Gambar 2.15 Probe sensor level kapasitif

Sifat Sensor Kapasitif yang Dimanfaatkan Dalam Pengukuran : a. Jika luas permukaan dan dielektrika (udara) dalam dijaga konstan, maka perubahan nilai kapasitansi ditentukan oleh jarak antara kedua lempeng logam.  b. Jika luas permukaan dan jarak kedua lempeng logam dijaga konstan dan

volume

dilektrikum

dapat

dipengaruhi

makan

perubahan

kapasitansi ditentukan oleh volume atau ketinggian cairan elektrolit yang diberikan. c. Jika jarak dan dielektrikum (udara) dijaga konstan, maka perubahan kapasitansi ditentukan oleh luas permukaan kedua lempeng logam yang saling berdekatan 3. Sensor kedekatan Optik. Sensor ini mendeteksi adanya objek dengan cahaya  biasanya adalah infra red. Proximity optik ini terdiri dari sebuah cahaya dan  penerima (receptor) yang mendeteksi sebuah benda dengan refleksi. Jika  benda dalam jarak yang sensitif atau benda mengenai cahaya dari sensor, maka cahaya akan memantul kembali ke penerima dan mengindikasikan  bahwa terdapat sebuah benda yang tertangkap sensor. Kelemahan sensor  proximity optik ini adalah dalam penggunaannya terkadang lensa kotor, cahaya kabur, permukaan refleksi yang buruk dan orientasi objek yang salah (Sofiani Putri,2012).

BAB III HASIL PELAKSANAAN PKL

3.1 Indentifikasi Topik Selama penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. divisi Bogasari Flour Mills pada departemen Automation, seluruh kegiatan yang penulis lakukan adalah memberikan support kepada karyawan khususnya foreman departemen Automation dalam melakukan  pekerjaannya. Beban kerja yang diterima sesuai dengan work order yang diberikan dari departemen lain. Jenis pekerjaan yang menjadi tanggung jawab karyawan departemen automation meliputi kontrol sistem, jaringan atau network, instrumentasi, selain itu ada bagian workshop yang khusus bertugas membuat dan mendesain benda kerja pendukung. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. divisi Bogasari Flour Mills menggunakan  banyak sekali mesin produksi besar yang menerapkan sistem kontrol manual, semi otomatis hingga full otomatis. Penggunaan sistem kontrol manual masih digunakan karena proses upgrading mesin maupun sistem kontrol tidak dapat dilakukan secara serentak karena dapat mengganggu kelancaran produksi, sehingga pemabaharuan dilakukan perlini. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi departemen automation dalam menyelesaikan tugasnya. Dari sekian banyak mesin produksi yang telah diamati, penulis tertarik mempelajari mesin rollermill karena prinsip kerjanya yang sederhana dan merupakan mesin utama dalam proses produksi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai sistem kontrol, mesin rollermill juga terdiri dari sistem semi otomatis dan full otomatis,tetapi prinsip kerjanya tetap sama. Khusus untuk mesin rollermill RMX 125Q produk OCRIM adalah full otomatis.

3.2 Pengenalan Rollermill RMX 125Q Mesin rollermill yang menjadi topik bahasan adalah produksi dari OCRIM S.p.A asal Italia.

51

52

sumber: katalog rollermill

Gambar 3.1 Logo OCRIM

Terdapat dua tipe rollermill buatan OCRIM yaitu tipe RMX 125Q dan tipe standar RMX. Perbedaan utama yaitu jumlah ruang penggilingannya dan tipe  grinding roll  yang digunakan. Untuk tipe RMX 125Q dilengkapi double deck atau dua ruang penggilingan bertingkat,biasanya menggunakan rol bergigi sedangkan tipe RMX hanya memiliki saru ruang penggilingan dan biasanya menggunakan rol halus. Prinsip kerja dan fungsi dasar dari keduanya adalah sama, akan tetapi tujuan penggunaannya sedikit berbeda. Tipe double deck RMX 125Q biasanya hanya digunakan untuk breaking proses tingkat satu (B1) atau tingkat dua (B2). Sedangkan untuk tipe RMX single deck untuk proses setelahnya yaitu reduction  proses.

Gambar 3.2 Rollermill RMX (kiri) dan rollermill RMX 125Q (kanan)

53

3.2.1 Fitur umum Rollermill RMX 125Q adalah mesin dengan desain yang inovatif, dibangun dengan perhatian khusus pada kebersihan. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan material yang digunakan. Seluruh bagian struktur terbuat dari stainless steel. Finishing permukaan menggunakan

"microsphere

polishing",

sehingga

memudahkan

dalam

 pembersihan dan pemeliharaan serta dapat menghindari dari tumbuhnya bakteri . hopper terbuat dari stainless steel dan dapat dengan mudah dibongkar pasang. Dengan dukungan desain teknologi CAD 3D yang modern menjadikan rollermill memiliki fondasi yang kokoh dan pada saat proses grinding, semua getaran dapat diserap dengan baik. Berikut adalah informasi teknis mengenai rollermill RMX 125Q. Tabel 3.1 Spesifikasi teknik rollermill RMX 125Q Model

RMX 080Q RMX 100Q RMX 125Q

Dimensions [mm]

Roll dimensions [mm]

A

B

C

Ø

Lunghezza

1780

1200

880

250

800

1980

1400

1080

250

2230

1650

1330

250

Maximum capacity* [kg/h]

 Net weight [kg]

Shipping volume [m3 ]

5000

Maximum installed power [kW] Motor Gear motor  50 60 Hz Hz 30 36 0.55

5340

8,8

1000

6250

37

45

0.55

5970

9,8

1250

7800

37

45

0.55

6750

10,8

Referred to 1 B1 passage - Type of product: wheat

3.2.2 Fungsi

Gambar 3.3 Breaking proses

54

 Rollermill  adalah mesin yang

berfungsi memecah dan memisahkan

endosperm gandum menjadi bran dan germ secara gradual ( break roll ) dan menggilingnya menjadi tepung ( smooth roll ). Gandum yang masuk adalah jenis gandum yang telah diatur kadar moisturenya, memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan keinginan. Produk hasil penggilingan ditransfer ke  plansifter  menggunakan transportasi udara tiup. Hasil dari plant sifter didistribusikan menuju proses selanjutnya sesuai dengan ukuran  granul   (butiran). Khusus untuk rollermill RMX 125Q hanya digunakan untuk break proses tahap 1 dan 2, dengan kode B1/B2. Berikut adalah gambar skematik breaking tahap satu atau dua.

Gambar 3.4 Skematik first breaking Tabel 3.2 Produk yang dihasilkan dari keseluruhan breaking proses

Granulation (butiran) 3 Granulation system

Jenis dan ukuran Coarse semolina ( 630 - 1250µm) Fine semolina ( 300 - 630 µm) Middling ( 180 - 300 µm)

4 Granulation system

Coarse semolina ( 630 - 1250µm) Fine semolina (400-630 µm) Coarse middling ( 280 - 400 µm)

55

Fine Middling ( 180 - 280 µm) 5 Granulation system

Coarse semolina ( 700 - 1250µm) Medium semolina ( 500 - 700µm) Fine semolina ( 350 - 500 µm) Coarse middling ( 236 - 350 µm) Fine middling ( 180 - 236 µm)

3.3 Komponen Rollermill 3.3.1 Komponen mekakik a. Break roller Break roller adalah alat penggiling dari break proses. Umumnya yang dipakai adalah Fluted Roller. Memiliki differential Speed = 2,5 - 2,65 dan Speed roller = 52.5 - 210 rpm. Gap silinder 2.5-3.0 mm

sumber: OCRIM-katalog rollermill RMX/Q

Gambar 3.5 Grinding roll  dan bagian pendukungnya

sumber: PPT-bogasari

Gambar 3.6 Konfigurasi permukaan grinding roll 

56

Kapasitas break roll: Yang dimaksud dengan kapasitas break roll adalah panjang total ( dalam Inch atau meter ) dari break rolls. Tabel 3.3 Kapasitas break roll

Berikut adalah perhitungan mengenai kapasitas break roll : Kapasitas Break Roll

= 312 inch

Total Length of Roll

= 828 inch

B.R.C

=

Umumnya kapasitas break roll 

= 36% - 40%

Kapasitas Break Roll (312 inch)

= 7,9248 meter

Kapasitas harian

= 6720 lbs/Hr = 73.156,608 kg/24 Hr

Ratio untuk B.R.C

= 10,83 mm/100 kg/24 Hr

Umumnya Ratio untuk B.R.C

= 4,0 - 5,3 mm/100/24 Hr

B1 Roller (60 inch)

= 1,524 meter

Kapasitas

  = 37,68% 

= 6,720 lbs/H = 3,048 Kg/Hr

Load to B1

= 2000 Kg/Hr per meter of roll length

Umumnya load to B1

= 3300 - 4500 Kg/Hr per meter of roll length

57

b. F eedtube atau feedtube

Gambar 3.7 inlet hopper atau feedtube

Feedtube yaitu tempat masuknya produk setelah proses penimbangan  pada wheiger sistem. Terbuat dari polikarbonat dan memiliki kapasitas  besar. Sudutnya didesain untuk menghasilkan aliran produk yang halus dan menghindari terjadinya “bridging” atau pengendapan produk didindingnya. Didalam feedtube terdapat probe sensor kapasitif. c. Scraper  (rol sikat)

sumber: OCRIM-katalog rollermill RMX/Q

Gambar 3.8 Scraper  roll

Scrapper roll memiliki diameter maksimal 400 mm dan kecepatan antara 25-300 Rpm. Scraper   roll termasuk ke dalam anggota grup  berputar. Ia berfungsi untuk membersihkan  grinding roll   sekaligus mendorong produk ke permukaan  screening. Untuk  screening breaking  memiliki diameter lubang 1.5 mm.

58

d. Feedroll 

sumber: OCRIM-katalog rollermill RMX/Q

Gambar 3.9 Feedroll  yang dikopel dengan gear motor 

 Feedroll   berfungsi untuk mendistribusikan yang masuk seluruh  panjang rol dan menjaga dosis produk agar sesuai dengan set point.  Feedroll   termasuk kedalam anggota  feeding grup  dan memiliki modul terpisah. Feedroll  dikopel dengan gear motor  berkapasitas 0.55 KW. 3.3.2 Komponen elektronik a. Sensor Terdapat dua buah sensor yang digunakan yaitu sensor  proximity  tipe kapasitif dan induktif. Sensor kapasitif berfungsi sebagai masukan untuk aksi pengendalian kecepatan  gear motor   dengan memberikan sinyal masukan 4-20 mA yang mewakili 0-100% level feedtube. Sensor induktif  berfungsi sebagai masukan untuk pengendalian motor rol. b. Gear motor 

Gambar 3.10 Gear motor 

59

Gear motor  merupakan modul terpisah yang dapat dipasang/lepas dengan mudah. Kapasitas motor yaitu 0.55KW dengan kecepatan maksimum 1500 Rpm. c. Inverter

Gambar 3.11 Inverter siemens

Siemens Micromaster 420 adalah inverter yang digunakan untuk mengatur kecepatan dari gear motor  e. Motor Roll

Gambar 3.12 Motor rol

Motor rol berfungsi sebagai penggerak utama untuk   grinding roll. Kapasitas yang digunakan yaitu 30KW. Motor rol biasanya dipasang di basement dan dikopel menggunakan belt .

60

f. Programmable Logic Control

Gambar 3.13 PLC siemens S7-200

Merupakan kontroler yang bekerja standalone, aksi pengontrolan tidak dipengaruhi oleh PLC master dan mode remote. PLC yang digunakan adalah Siemens S7-200 dengan tipe CPU 214-1AD23-OXBO dan power supply SITOP POWER 2. 3.3.3 Komponen pneumatik

Gambar 3.14 Diagram pneumatik

61

Dengan melihat gambar diagram pneumatik rollermill   diatas, untuk menggerakan  grinding roll   menjauh (disengaged) dan mendekat (engaged) diperlukan aktutor berupa double acting cilinder (DAC). Tekanan udara yang digunakan sebesar 6 bar. Sistem pneumatic pada mesin rollermill tipe RMX 125Q memiliki persamaan dalam prinsip kerjanya dengan tipe LAM C-CV. Tabel 3.4 Diagram pneumatik

kode keterangan A

Inlet ke mesin melalui ¼ G kopling dari Compressed Air Network [LAD],  pada tekanan 6 bar.

B

Inlet ke mesin melalui ¼ G kopling dari Compressed Air Network [LS],  pada tekanan 4.5/5 bar.

1

Pilot Lamp

2

Tiga posisi pneumatik selektor (disengaged, force engaged, servo adjusting)

3

Doble Acting Pneumatic Cylinder untuk pendekatan dan penarikan Rolls Grinding

4

Doble Acting Pneumatic Cylinder untuk pendekatan dan penarikan Rolls Grinding

5

Directional Solenoid Valve 5/2 dengan operasi pneumatik

6

Circuit Selector

7

Reducer / Choke

8

Pneumatic Cylinder with Differential Action

9

Transducer (N.A.), normally open

10

Transducer (N.A.), normally open

11

Inductive Detector

62

3.4 Prinsip kerja mesin rollermill RMX 125Q

Gambar 3.15 Diagram alir prinsip kerja mode kecepatan fungsi level.

Produk yang masuk akan disimpan sementara didalam ruang  feedtube sampai ketinggian tertentu, dalam hal ini bisa berat atau level yang menjadi acuan. Sensor yang terdapat pada  feedtube  sensitif terhadap perubahan ketinggian sehingga memicu  feeder roll s untuk start up.dan juga memicu servo mekanisme bekerja. Selain itu, secara otomatis plat  feed gate  akan terbuka. Untuk lebih jelasnya  perhatikan gambar 3.6 dan gambar 3.7.

63

sumber: OCRIM- EUROPEAN PATENT SPECIFICATION

Gambar 3.16 Pandangan sisi melintang mesin rollermill RMX 125Q

Sumber: OCRIM- EUROPEAN PATENT SPECIFICATION

gambar 3.17 kostruksi penggerak mula

64

Gambar 3.6 hanya menggambarkan setengah dari penampang mesin, karena setengah bagian yang lainnya identik. Sedangkan gambar 3.7 adalah kontruksi mesin bagian luar. Berikut adalah keterangan gambar:

1.  No.10 adalah ruang akumulasi masuknya produk. 2.  No.11 dan no.12 adalah sepasang feeder roll (rol pengumpan) yang  berfungsi untuk mendistribusikan yang masuk seluruh panjang rol dan menjaga dosis produk agar sesuai dengan set point. Dengan begitu produk yang masuk ke  grinding roll   (rol penggilingan) no.13 dan no.14 dapat merata. Feeder roll tidak melakukan aksi penggilingan. 3. Rol no.13 dan no.14 melakukan aksi penggilingan pertama dengan kecepatan putaran yang perbeda. Berdasarkan referensi gambar 3.7, terdapat perbedaan diameter antara puli no.15 dan no.16 yang dihubungkan dengan belt no.17. Hal tersebut yang menyebabkan  perbedaan kecepatan dari grinding roll . 4. Setelah first breaking, dimana dilakukan pada aksi penggilingan pertama,  produk jatuh ke  scraper roll   no.18 dan terdorong ke dinding penyaringan no.19 dengan arah putaran kekanan ditunjukan panah no.20. 5. Permukaan screening (penyaring) no.19 berbentuk silinder dan terbuat dari logam berlubang dengan ukuran yang telah ditetapkan. Sehingga produk yang lebih kecil dapat lewat tanpa harus melalui tahap penggilingan kedua. Selain itu, ujung dari rol no.18 berbentuk seperti sikat, sehingga dapat pula berfungsi sebagai pembersih pada permukaan screening no.19. 6. Untuk produk yang tidak tersaring di no.19 maka produk akan jatuh ke  pelat no 43 dan 44 dan masuk ke ruangan penggilingan kedua dengan rol no.41 dan 42. Hasil penggilingan yang melewati permukaan  screening  dan yang dihasilkan dari penggilingan kedua, digabungkan dan dikirim melalui loading hopper  ke plansifter. 7. Dengan melihat gambar 3.6 dan mengacu pada gambar 3.7,  scraper roll digerakan oleh  gear motor   no.36 menggunakan belt no.37 dan unit  pembalik gerakan no.38. Dengan unit pembalik tersebut, poros yang

65

terhubung langsung ke  scraper roll digerakan searah jarum jam, seperti ditunjukan no.20. Selain itu motor no.36 juga menggerakan  feeder roll  yang berfungsi untuk mengatur dosis produk yang masuk ke ruang  penggilingan. Sabuk pada  gear motor   dikencangkan oleh  jockey pulley no.52. Jika memungkinkan,  scraper roll seharusnya digerakan oleh  gear motor  tetapi untuk menghemat ruang dan menekan biaya, hal ini dihindari. 3.5 Pengendalian Kecepatan rollermill RMX 125Q 3.5.1 Fungsi dasar Putaran Feed rolls diatur oleh inverter. Level pada feed tube atau  feedtube dideteksi oleh probe sensor kapasitif. Penyesuaian otomatis kecepatan  feedroll  dilakukan untuk mempertahankan level produk pada nilai yang ditetapkan. Akan tetapi dapat pula memilih tipe operasi kecepatan tetap dengan menghentikan fungsi penyesuaian. Dalam kasus ini, operatur diharuskan secara manual mengatur  bukaan feed valve dalam rangka menemukan kondisi penggilingan terbaik. Berikut adalah diagram blok sistem kendali cascade.

Gambar 3.18 Diagram blok pengendalian

Dari gambar tersebut terlihat kedua controller masing-masing mempunyai elemen pengukur (sensing) sendiri. Akan tetapi hanya satu controller yang disebut  primary atau master controller mempunyai setpoint yang bebas, dan hanya satu controller yang disebut sebagai secondary atau slave controller yang berhubungan langsung dengan atau mempunyai output ke process. Kontroler yang bertindak sebagai master yaitu Siemens S7-200 dan inverter micromaster 420 sebagai

66

 secodary/slave kontroler . Untuk Secondary controller , variable yang dimanipulasi (manipulated variable) serta elemen pengukurnya akan mempentuk satu loop sendiri yang disebut secondary loop atau inner loop. Agar sistem dapat bekerja dengan baik, maka inner loop  harus lebih cepat dari outer loop, sehingga inner controller akan mengoreksi sendiri loop-nya sebelum ia mengubah kontrol variabel. 3.5.2 Mode Pengoperasian 1) Remote Control Cara pengontrolan mesin roller mill dapat dilakukan secara remote dari server melalui HMI. Pada HMI ditampilkan status mesin,dan pengontrolan hanya sebatas start dan stop. (gambar tampilan halaman HMI secara keseluruhan terdapat pada lampiran 4).

Gambar 3.19 Tampilan HMI mill AB

Debit gandum yang masuk ke feedtube dipengaruhi oleh settingan feedrate timbangan yang posisinya berada sebelum mesin rollermill. Dari gambar dapat dilihat bahwa kapasitas weigher system yaitu 20.499 Ton/hour, dan  pengaturan feedratenya Mill A yaitu 20.5 ton/hour. Debit gandum yang menuju mesin rollermill adalah maksimum 7800 kg/h.

67

2) Local Control

Gambar 3.20 Tampilan panel simatic rollermill RMX 125Q

Pengaturan parameter dapat dilakukan secara langsung di mesin rollermill melalui layar touchscreen Siemens Simatic. Berdasarkan gambar dapat dilihat bahwa status posisi  grinding roll   dalam kondisi automatic adjustment, dan pengaturan kecepatan roll sesuai dengan level produk Berikut adalah keterangan dari simbol yang ditampilkan:

Tabel 3.5 Simbol panel touchscreen simatic RMX 125Q

 No. 1

Simbol

keterangan Pengaturan manual  grinding roll  dalam kondisi engaged

2

Pengaturan manual  grinding roll  dalam kondisi disengaged

3

Pengaturan  grinding roll   dalam kondisi automatic gap adjustment 

4

Pengaturan kecepatan motor rol  berdasarkan fungsi level.

5

Pengaturan kecepatan motor rol konstan

6

Menampilkan status motor rol

7

Menampilkan status level produk  pada feedtube

68

8

Menampilkan status kecepatan dari motor feeder

9

Menampilkan status kecepatan dari motor rol

10

Menampilkan status jarak kedua  grinding roll  (dalam µm)

a. Mode automatic roll gap adjustment Roll gap atau celah antara dua roll dapat menyesuaikan secara otomatis dengan sistem  servo assisted movement   yang menggunakan motor stepper sebagai penggeraknya. Posisi dari perpindahan sudut motor stepper dikendalikan oleh micrometic precision potensiometer . Penyesuaian roll gap tidak tergantung pada gerakan silinder pneumatic untuk roll engagement dan roll disengagement. Dalam keadaan darurat, misalnya motor stepper rusak, mekanisme penyesuaian dapat dilakukan dengan cara mengoperasikan secara manual dengan memutar handwheels. Sistem  servo assisted   memungkinkan  posisi roll penggilingan untuk dikendalikan dari jarak jauh dengan komunikasi standar profibus. Hal ini memungkinkan pengendalian gap untuk semua rollermill dapat dilakukan di ruang kontrol oleh miller atau bagian milling sesuai dengan “resep” yang telah ditetapkan dan dilaksanakan setiap siklus awal produksi. Putaran dari roll penggilingan atau  grinding roll   dipengaruhi oleh sensor induktif. Kemungkinan perbedaan dalam sistem transmisi akan segera dilaporkan ke pusat kontrol sistem.  b. Mode disengaged  Mode ini membuat rollermill tidak beroperasi. Biasanya digunakan dalam untuk keperluan pengetesan dan perawatan. Berikut adalah cara kerjanya: 

Posisi grinding roll  menjauh satu sama lain.

69



 feeding roll  berhenti bekerja.



 Feeding valve plat pada posisi minimum.



Sikat/Scraper menjauh dari grinding roll.



Sinyal indikator berkedip

c. Mode engaged  Mode ini adalah standar yang digunakan apabila mode automatic roll gap adjust mengalami kegagala. Berikut adalah cara kerjanya: 

Grinding roll  merapat (Engaged).



Feeding Roll Jalan.



Feeding valve pada posisi minimum.



Sikat/Scrapper merapat ke Roll.



Lampu sinyal mati.

d. Mode Operasi Rpm=f(L) Dalam mode ini level feedtube diukur dan dijadikan umpan balik kontroler untuk melakukan aksi pengendalian. Kecepatan  feedroll   dan bukaan feedgate berubah sesuai nilai level agar nilai level tetap pada setpoint. e.

Mode operasi Rpm=konstan Dalam mode ini level feedtube tetap diukur, akan tetapi tidak dijadikan umpan

 balik, dan tidak mempengaruhi kecepatan feedroll   maupun grinding roll . Dalam hal ini, operator harus menyesuaikan debit dengan kecepatan agar mesin tidak mengalami over capacity atau empty product 

3.5.3 Hubungan Arus, Kecepatan dan Level Semakin besarnya debit gandum yang masuk pada mesin rollermill, maka level pada feedtube akan naik. Untuk menjaga level tetap pada setpoint, maka kecepatan  feedroll   dinaikan secara linier dan bukaan feedgate semakin melebar. Untuk lebih jelasnya lihat tabel 3.6 berikut.

70

Tabel 3.6 hubungan kecepatan dengan level

 No.

Level feedtube

Kecepatan

Kecepatan

Arus Motor

(%)

 feedroll  (Rpm)

 grinding roll 

Rol (A)

(Rpm) 1

0

0

52.5

12.93

2

10

100

68.25

16.8

3

20

200

84

20.6

4

30

300

99.75

24.5

5

40

400

115.5

28.45

6

50

500

131.25

32.3

7

60

600

147

36.2

8

70

700

162.75

40.1

9

80

800

178.5

43.9

10

90

900

194.25

47.86

11

100

1000

210

51.7

Meskipun level feedtube 0 persen, tetapi arus motor rol sudah ada, karena motor sudah standby sejak mesinn dihidupkan. Dengan naiknya debit gandum, maka beban kerja rol meningkat. Oleh karena itu selain meningkatkan kecepatan, torsi motor dinaikan, dengan begitu motor menyerap arus lebih besar. Motor rol dan feedroll   mengalami hal yang sama. Berikut adalah hubungan arus motor rol dengan kecepatan. 3.5.4 Sistem komunikasi dan Topologi Jaringan PLC yang digunakan untuk master pada MILL AB adalah Siemens S7-400 dengan tipe CPU 416-3 PN/DP, dan Power supply 407 4 A.  Sedangkan jenis PLC untuk mesin Rollermill RMX 125Q adalah Siemens S7-200 dengan tipe CPU 214-1AD23-OXBO dan power supply SITOP POWER 2.

71

Gambar 3.21 Panel Server Mill AB

Pada server mill AB terdapat 3 buah master PLC, yaitu Master PLC COM digunakan dalam sistem bersama (common sistem) seperti sistem Precleaning. Master PLC A untuk mengendalikan seluruh proses kerja di mill A dan Master PLC B untuk mengendalikan seluruh proses kerja di mill B. Topologi jaringan mill A terdapat di lampiran 3. Tabel 3.7 Kode panel dan nama panel pada jaringan mill A

Kode

Nama

Panel MSB CA

Panel Main Switch Breaker Cleaning A

Panel MSB RM2A

Panel Main Switch Breaker RollerMill 2A

Panel MSB RM1A

Panel Main Switch Breaker RollerMill 1A

Panel MSB MA

Panel Main Switch Breaker Milling A

Panel MSB JBRXMA

Panel Main Switch Breaker Juction Box X Milling A

Panel MSB JB2MA

Panel Main Switch Breaker Juction Box 2 Milling A

72

Panel MSB JB1MA

Panel Main Switch Breaker Juction Box 1 Milling A

Panel MSB JB2PA

Panel Main Switch Breaker Juction Box 2 Panel A

Panel MSB JB1PA

Panel Main Switch Breaker Juction Box 1 Panel A

PM

Profibus Modul

Scalance

Pembagi/HUB

IM

Interface Module

DM

Dampening Machine

Topologi jaringan yang digunakan adalah

topologi Tree karena bentuk

topologinya yang bercabang seperti pohon. Kelebihan dari topologi ini ketika salah satu dari client   mati, maka sistem lainnya tidak akan terpengaruh, namun  jika hub utama mati, maka seluruh sistem akan mati. Protokol standar komunikasi yang digunakan yaitu Profibus dan Ethernet. Protokol ethernet merupakan aturan komunikasi yang memungkinkan dua buah PLC atau lebih dapat saling  berkomunikasi walaupun berbeda type. Jenis kabel yang digunakan yaitu kabel UTP CAT6 dengan konektor RJ45 dengan kecepatan 12 Mbps. Ethernet juga digunakan untuk komunikasi  Master dengan Slave. Untuk pengendalian rollermill, Master PLC A berkomunikasi menggunakan TCP/IP dengan scalance  pada panel MSB CA menggunakan protokol ethernet. Protokol ethernet digunakan untuk komunikasi antara plc dengan scalance, scalance dengan Profibus modul. Dari panel MSB CA terhubung secara paralel ke scalance panel MSB RM1A dan panel MSB RM1B yang merupakan panel grup dari mesin rollermill. Dari masing-masing scalance di panel RM1A dan RM2A, dapat mengontrol sebuah Interface Module RM1A dan 2A yang berfungsi sebagai I/O ke PLC dari rollermill. Komunikasi dari IM ke PLC rollermill menggunakan  protokol Profibus. Untuk mengecek status dari PLC dapat dilakukan di PM yang tersedia disetiap lantai bangunan.

73

3.6 Troubleshooting a) Overcapacity pada Feedtube Besarnya kapasitas penggilingan mesin rollermill terbatas sehingga debit gandum yang masuk harus diperhatikan. Biasanya, ketika terjadi overcapacity dapat diakibatkan beberapa hal, yaitu: 1. Mode kecepatan fungsi level tidak bekerja dengan baik, disebabkan oleh sensor level yang error dalam pembacaan pengukuran sehingga putaran motor  feeder   tidak sesuai dengan pengaturan. Sensor-sensor perlu dikalibrasi agar nilai input pada alat kontrol sesuai. Untuk sementara digunakan mode putaran konstan. 2. Debit gandum yang melebihi kapasitas mesin, biasanya diakibatkan kesalahan koordinasi atau setting feedrate pada weigher   sistem pada tahap sebelumnya. Untuk mengatasinya, dilakukan pengaturan ulang nilai  feedrate yang dapat dilakukan secara remote.  b) Ampereroll error Adalah ampere meter yang berfungsi mengukur arus pada motor rol. Sering kali terjadi kegagalan pembacaan pada ampere meter dengan penyebab yang berbeda beda. Diantaranya adalah Ammeter putus karena hubung singkat rangkaian, terjadi overload   dengan nilai yang besar pada motor rol, ammeter sudah tua. c) Status rollermills sering alarm Keadaan ini terjadi karena pada mesin rollermill  banyak parameter yang diukur dan seringkali terjadi gangguan, seperti overload   motor rol, overcapacity, overspeed dan underspeed   pada  grinding roll   atau  feedroll. Terkadang komunikasi data terputus dan menyebabkan alarm serta status mesin dianggap lost. Biasanya untuk gangguan yang tidak terlalu darurat dapat diabaikan dengan mematikan alarm dan memilih mode force atau paksa  pada mesin. d) Kegagalan pada sistem mekanik 1. Kegagalan pada sistem pneumatik terkadang terjadi, seperti silinder DAC yang mengalami kemacetan.

74

2.  permukaan grinding  permukaan grinding roll  sering  sering kali aus sebelum waktunya. 3. Belt pada main pulley dengan motor roll seringkali putus. 3.7 SIMULASI Simulasi ini merupakan gambaran mengenai prinsip kerja dan cara  pengendalian kecepatan dari rollermill RMX 125Q. Simulasi dibuat dengan menggunakan software CX-One dari OMRON karena cara penggunaannya sederhana dan cukup mudah. Untuk membuatnya dibutuhkan CX-Designer sebagai media untuk membuat tampilan Human Machine interface (HMI) dan CX-Programmer untuk membuat diagram laddernya. Berikut adalah langkah pembuatan simulasinya. 1. Buka aplikasi CX-Programmer

Gambar 3.22 Tampilan jendela blank  CX-Programmer  CX-Programmer

2. Setelah berhasil dibuka, pilih File > new

Gambar 3.23 menu untuk memulai projek

3. Setelah keluar tampilan berikut, beri nama filenya, pilih device, untuk simulasi sebaiknya dipilih CJ1M.

75

Gambar 3.25 penentuan hardware PLC

4. Buat program yang sesuai dengan keperluan, dalam hal ini penulis membuat program logika mengenai prinsip kerja dari rollermill RMX/Q. Berikut adalah hasil capture dari capture dari sebagian program yang dibuat.

Gambar 3.26 capture diagram ladder

Gambar 3.27 capture diagram ladder

76

5. Setelah membuat program ladder, selanjutnya membuat tampilan HMI. Buka software CX-Designer.

Gambar 3.28 tampilan awal CX-Designer

6. Setelah berhasil dibuka, pilih file > new project

Gambar 3.29 menubar untuk membuat projek baru

7. Setelah memilih new, akan muncul jendela berikut. Pilih NS15-TX0[]V2, beri nama file dan lokasi penyimpanan.

Gambar 3.30 jendela dialog untuk projek baru

77

8. Setelah melakukan pengaturan projek, akan muncul dialog untuk memulai dan membuat halaman pertama HMI. Beri nama sesuai yang diinginkan.

Gambar 3.31 jendela untuk membuat halaman baru

9. Jika berhasil, maka akan tampil jendela seperti gambar dibawah ini. Pada halaman ini terdapat berbagai tools dengan fungsi yang berbeda seperti bit lamp, word lamp, push button, word button, dll.

Gambar 3.32 tampilan halaman awal

10. Buat tampilan HMI seperti gambar dibawah ini, dan beri alamat pada simbol sesuai dengan alamat yang terdapat pada CX-Programmer.

78

Gambar 3.33 capture halaman utama HMI 11.

Jika telah selesai, untuk melakukan simulasi yaitu dengan memilih test yang terdapat pada menubar. Lalu muncul dialog seperti gambar dibawah ini. Pilih connect to CX-simulator, dengan syarat program ladder yang dibuat menggunakan CX-Programmer sedang dibuka di windows.

Gambar 3.34 tampilan dialog simulasi

79

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan 1. Mesin rollermill yang digunakan pada mill AB adalah tipe RMX 125Q, double deck. Prinsip kerja dari rollermill intinya adalah untuk memecah dan memisahkan endosperm gandum menjadi bran dan germ secara gradual menggunakan breakroll break roll. Produk yang masuk adalah gandum utuh yang akan digiling oleh 2 pasang  grinding roll   dan hasilnya ditransfer ke plansifter. 2. Komponen utama dari rollermill RMX 125Q adalah sebagai berikut : 1. Sistem Pneumatik terdiri dari DAC, directional valve 5/2, choke, differential cylinder. 2. Sistem Elektrik terdiri dari sensor,  gear motor , inverter, motor rol, PLC. 3. Sistem Mekanik terdiri dari grinding roll, feedroll, scraper, feedtube. 3. Pengendalian kecepatan  feedroll   dipengaruhi oleh pasokan gandum yang masuk ke feedtube dan menyebabkan level ketinggian tube berubah ubah. Sensor kapasitif pada tube memberikan umpan balik berupa sinyal analog  pada PLC untuk aksi pengendalian kecepatan  feedroll. PLC memberikan  perintah pada inverter untuk mengendalikan kecepatan dari  gear motor yang dikopel dengan feedroll. 4.2 Saran Pada umumnya, respon penanganan masalah dalam ruang lingkup automation sudah berjalan dengan baik, akan tetapi terdapat beberapa masih terdapat beberapa hal yang tidak dilakukan sebagaimana mestinya baik oleh karyawan automation maupun di departemen lainnya. 1. Hendaknya selalu menggunakan alat pelindung diri. APD sering kali tidak digunakan saat melakukan pekerjaan yang mewajibkan siapapun

80

menggunakannya. Sebagai contoh penggunaan earplug pada daerah kebisingan diambang batas. Penggunaan masker didaerah yang berdebu dan terkontaminasi. Penggunaan sarung tangan saat memegang benda kasar. Hal ini demi menghindari terjadinya masalah kesehatan di kemudian hari. 2. Kegiatan maintanance sebaiknya dilakukan sesuai jadwal tanpa melihat kepentingan mesin. Biasanya pada alat atau mesin yang tidak urgent  seringkali diabaikan, sehingga dapat mengganggu proses produksi ketika terjadi kegagalan. 3. Koordinasi antara karyawan yang berbeda departemen lebih ditingkatkan agar tidak terjadi miskomunikasi dalam melakukan kegiatan produksi. 4. Peserta kegiatan PKL diberi kesempatan untuk melakukan penanganan masalah yang tidak urgent   dengan dibimbing oleh pembimbing lapangan dan diberi tugas yang jelas setiap harinya.

81

DAFTAR PUSTAKA

1. Wirawan dan Pramono, Bahan Ajar Pneumatik-Hidroulik, Universitas Negeri Semarang. 2. http://www.artikel-teknologi.com. 3. http://www.academia.edu/7439507/MAKALAH_PENGENDALIAN_PNEUMA TIK . 4. Siemens, Katalog Profibus Siemens, Agustus 2002 5. http://trikueni-desain-sistem.blogspot.co.id/2013/09/Prinsip-Dasar-Inverter.html 6. http://www.kompasiana.com/harisusanto/tranduser-dansensor_55007cfba33311376f51140b 7. http://www.academia.edu/7753406/Kapasitif_Sensor . 8. http://dokumen.tips/documents/copy-of-sensor-induktif.html 9. OCRIM, katalog RMX/Q stainless steel double deck rollermill, 2014. 10. BOGASARI, ppt Milling Process & Machineries Versi Lengkap, 2003. 11. BOGASARI, ppt safety induction, 2012. 12. http://www.automation.com/automation-news/article/profibus-and-modbus-acomparison

82

LAMPIRAN 1

83

   i   s    i   v    i    D  .    k    b    T   r   u   m    k   a    M   s   e   s  .    k   s   u   l    S   l    i    d   M   o   r   o   u    f   o   o    d   l   n   F    I    i  .   r    T   a   s    P   a   g    i   s   o   a   s    B    i   n   a   g   r    O   r   u    t    k   u   r    t    S   r   a    b   m   a    G

84

LAMPIRAN 2

85

   i   r   a   s   a   g   o    B    i   s    i   v    i    D  .    k    b    T   r   u   m    k   a    M   s  .   e   s   s    l    k   l   u   i    S   M    d   r   o   u   o   o   l    f    F   o    d   n    I  .    T    P    i   s    k   u    d   o   r   p   r   u    l    A   r   a    b   m   a    G

86

LAMPIRAN 3

87

   i   s    i   v    i    D  .    k    b    T   r   u   m    k   a    M   s   e   s  .    k   s   u   l    S   l    i    d   M   o   r   o   u    f   o   o    d   l   n   F    I    i  .   r    T   a   s    P   a   g    i   s   o   a   B    k    i   n   u   m   o    K   m   e    t   s    i    S   r   a    b   m   a    G

88

LAMPIRAN 4

89

  s   e   s    k   u    S    d   o   o    f   o   s  .    d   l    l   n   i    I  .    T   M    P   r   u   o    B   l    A   F    i    l    l    i   r   a   m  s   a   g   g   n   o    i    l    B    l    i    i   s   m   i   v   n   i   a    D    i   g  .   a   k    b   b    I    T    M  r   u    H  m   n   k   a   a    l    i    M   p   m   a    t   r   a    b   m   a    G

View more...

Comments

Copyright © 2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF